26 Agustus 2026 · Hari 4
Hari 4: Pasal 10 - SUARA DI PADANG BELANTARA
Halaman 93-94 | Pasal 10, Paragraf 22-28 | KSZ1 93.2-KSZ1 94.4
Ayat Inti
Yohanes 1:23
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran
Minggu 8 membaca Bab 10: Suara di Padang Belantara. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Doa
Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.
Teks Lengkap
KSZ1 93.2 Tetapi kehidupan Yohanes tidak dihabiskannya untuk bermalasmalas, untuk semata-mata bertekun dengan muka muram, atau mengasingkan diri untuk kepentingan diri sendiri. Kadang-kadang ia pergi berbaur dengan orang banyak; dan ia selamanya merupakan seorang pengamat yang menujukan perhatian besar terhadap apa yang terjadi di dunia. Dari tempat kediamannya yang sunyi itu ia mengamat-amati perkembangan peristiwa. Dengan penglihatan yang diterangi oleh Roh Ilahi dipelajarinya tabiat-tabiat manusia, supaya ia tahu bagaimana cara men-capai hati mereka dengan pekabaran dari surga. Beban tugasnya dipikulnya. Dalam kesunyian oleh renungan dan doa, ia berusaha memperkuat jiwanya guna pekerjaan hidup yang ada di hadapannya.
KSZ1 93.3 Sungguh pun jauh di padang belantara, tidaklah ia bebas dari penggodaan. Sedapat-dapatnya ia menutup setiap jalan yang dapat dimasuki oleh Setan namun ia masih juga diserang oleh penggoda itu. Tetapi pandangan rohaninya terang; ia telah mengembangkan tenaga dan keputusan tabiat, maka dengan pertolongan Roh Kudus ia sanggup mengenal bujukan Setan, dan melawan kuasanya.
KSZ1 93.4 Yohanes mendapat sekolah dan tempat pemukiman di padang belantara. Sebagaimana halnya dengan Musa dahulukala di antara pegunungan Midian, Ia dikelilingi oleh hadirat Allah, serta dikelilingi dengan tandatanda kuasa-Nya. Bukanlah nasibnya untuk tinggal, sebagaimana halnya dengan pemimpin besar Israel itu dahulukala, di tengah-tengah kesunyian pegunungan yang hebat dan mulia; tetapi di hadapannya adalah gunung-gunung Moab, di seberang Yordan, yang berbicara tentang Dia yang telah mendirikan gunung-gunung itu, serta memperlengkapinya dengan kekuatan. Pemandangan alam yang suram dan ngeri di tempat kediamannya di padang belantara itu dengan jelas melukiskan keadaan Israel. Kebun anggur Tuhan yang subur itu sudah menjadi padang gurun yang sunyi. Tetapi di atas padang gurun itu langit melengkung terang dan indah. Awan-awan yang berkumpul, gelap dengan badai, dilengkungi dengan pelangi perjanjian. Demikianlah di atas kehinaan Israel bersinarlah kemuliaan kerajaan Mesias yang telah dijanjikan itu. Awan murka dilingkungi pelangi perjanjian kemurahan-Nya.
KSZ1 94.1 Seorang diri pada waktu malam yang sunyi ia membaca janji Allah kepada Abraham tentang benih yang tidak terhitung seperti bintang-bintang banyaknya. Cahaya fajar, yang menyepuh pegunungan Moab, bercerita tentang Dia yang akan menjadi seperti “fajar di waktu pagi, pagi yang tidak berawan.” 2 Samuel 23 :4. Dan dalam kegemilangan siang hari dilihatnya kemegahan kenyataan Nya, manakala kemuliaan Tuhan akan dinyatakan, dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersamasama.” Yesaya 40:5
KSZ1 94.2 Dengan roh yang segan namun penuh sukacita ia memeriksa dalam gulungan-gulungan surat nubuatan segala kenyataan tentang kedatangan Mesias,—benih perjanjian yang akan meremukkan kepala ular itu, Silo, “pemberi damai itu,” yang akan menampakkan diri sebelum seorang raja berhenti berkerajaan di atas takhta Daud. Kini waktunya sudah tiba. Seorang pemerintah bangsa Romawi bersemayam dalam istana di atas Bukit Sion. Oleh firman Tuhan yang pasti, Kristus itu pun sudah lahir.
KSZ1 94.3 Gambaran Yesaya yang indah tentang kemuliaan Mesias menjadi pelajarannya siang dan malam,—Pucuk dari akar Isai; seorang Raja yang akan memerintah dalam kebenaran, “menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan;” “perteduhan terhadap angin dan tempat perlindungan terhadap angin ribut... naungan batu yang besar, di yang tandus, Israel tiada lagi akan disebut “yang ditinggalkan suami,” ataupun tanahnya “yang sunyi,” melainkan akan disebut oleh Tuhan, yang berkenan kepada-Ku,” dan tanahnya “bersuami.” Yesaya 11:4; 32:2; 62:4. Hati orang buangan yang kesunyian itu dipenuhi dengan penglihatan yang mulia.
KSZ1 94.4 Ia memandang kepada Raja itu dalam kemuliaan-Nya, lalu diri pun dilupakan. Ia melihat kemuliaan kesucian, lalu merasa dirinya tidak sanggup dan tidak layak. Ia sudah sedia untuk pergi sebagai utusan surga, tiada gentar oleh kemanusiaan, sebab ia telah memandang kepada Ilahi. Ia dapat berdiri tegak dan berani di hadapan raja-raja duniawi, sebab ia sudah sujud di hadapan Raja segala raja.
ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL
26 Agustus 2026 | Hari 4
Hari 4: Pasal 10 - SUARA DI PADANG BELANTARA
Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 10 - SUARA DI PADANG BELANTARA
Halaman 93-94 | Pasal 10, Paragraf 22-28 | KSZ1 93.2-KSZ1 94.4
Ayat Inti:
Yohanes 1:23
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran:
Minggu 8 membaca Bab 10: Suara di Padang Belantara. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Baca:
https://www.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-8-hari-4-2026-08-26
Teks Lengkap:
Tetapi kehidupan Yohanes tidak dihabiskannya untuk bermalasmalas, untuk semata-mata bertekun dengan muka muram, atau mengasingkan diri untuk kepentingan diri sendiri. Kadang-kadang ia pergi berbaur dengan orang banyak; dan ia selamanya merupakan seorang pengamat yang menujukan perhatian besar terhadap apa yang terjadi di dunia. Dari tempat kediamannya yang sunyi itu ia mengamat-amati perkembangan peristiwa. Dengan penglihatan yang diterangi oleh Roh Ilahi dipelajarinya tabiat-tabiat manusia, supaya ia tahu bagaimana cara men-capai hati mereka dengan pekabaran dari surga. Beban tugasnya dipikulnya. Dalam kesunyian oleh renungan dan doa, ia berusaha memperkuat jiwanya guna pekerjaan hidup yang ada di hadapannya. [KSZ1 93.2]
Sungguh pun jauh di padang belantara, tidaklah ia bebas dari penggodaan. Sedapat-dapatnya ia menutup setiap jalan yang dapat dimasuki oleh Setan namun ia masih juga diserang oleh penggoda itu. Tetapi pandangan rohaninya terang; ia telah mengembangkan tenaga dan keputusan tabiat, maka dengan pertolongan Roh Kudus ia sanggup mengenal bujukan Setan, dan melawan kuasanya. [KSZ1 93.3]
Yohanes mendapat sekolah dan tempat pemukiman di padang belantara. Sebagaimana halnya dengan Musa dahulukala di antara pegunungan Midian, Ia dikelilingi oleh hadirat Allah, serta dikelilingi dengan tandatanda kuasa-Nya. Bukanlah nasibnya untuk tinggal, sebagaimana halnya dengan pemimpin besar Israel itu dahulukala, di tengah-tengah kesunyian pegunungan yang hebat dan mulia; tetapi di hadapannya adalah gunung-gunung Moab, di seberang Yordan, yang berbicara tentang Dia yang telah mendirikan gunung-gunung itu, serta memperlengkapinya dengan kekuatan. Pemandangan alam yang suram dan ngeri di tempat kediamannya di padang belantara itu dengan jelas melukiskan keadaan Israel. Kebun anggur Tuhan yang subur itu sudah menjadi padang gurun yang sunyi. Tetapi di atas padang gurun itu langit melengkung terang dan indah. Awan-awan yang berkumpul, gelap dengan badai, dilengkungi dengan pelangi perjanjian. Demikianlah di atas kehinaan Israel bersinarlah kemuliaan kerajaan Mesias yang telah dijanjikan itu. Awan murka dilingkungi pelangi perjanjian kemurahan-Nya. [KSZ1 93.4]
Seorang diri pada waktu malam yang sunyi ia membaca janji Allah kepada Abraham tentang benih yang tidak terhitung seperti bintang-bintang banyaknya. Cahaya fajar, yang menyepuh pegunungan Moab, bercerita tentang Dia yang akan menjadi seperti “fajar di waktu pagi, pagi yang tidak berawan.” 2 Samuel 23 :4. Dan dalam kegemilangan siang hari dilihatnya kemegahan kenyataan Nya, manakala kemuliaan Tuhan akan dinyatakan, dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersamasama.” Yesaya 40:5 [KSZ1 94.1]
Dengan roh yang segan namun penuh sukacita ia memeriksa dalam gulungan-gulungan surat nubuatan segala kenyataan tentang kedatangan Mesias,—benih perjanjian yang akan meremukkan kepala ular itu, Silo, “pemberi damai itu,” yang akan menampakkan diri sebelum seorang raja berhenti berkerajaan di atas takhta Daud. Kini waktunya sudah tiba. Seorang pemerintah bangsa Romawi bersemayam dalam istana di atas Bukit Sion. Oleh firman Tuhan yang pasti, Kristus itu pun sudah lahir. [KSZ1 94.2]
Gambaran Yesaya yang indah tentang kemuliaan Mesias menjadi pelajarannya siang dan malam,—Pucuk dari akar Isai; seorang Raja yang akan memerintah dalam kebenaran, “menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan;” “perteduhan terhadap angin dan tempat perlindungan terhadap angin ribut... naungan batu yang besar, di yang tandus, Israel tiada lagi akan disebut “yang ditinggalkan suami,” ataupun tanahnya “yang sunyi,” melainkan akan disebut oleh Tuhan, yang berkenan kepada-Ku,” dan tanahnya “bersuami.” Yesaya 11:4; 32:2; 62:4. Hati orang buangan yang kesunyian itu dipenuhi dengan penglihatan yang mulia. [KSZ1 94.3]
Ia memandang kepada Raja itu dalam kemuliaan-Nya, lalu diri pun dilupakan. Ia melihat kemuliaan kesucian, lalu merasa dirinya tidak sanggup dan tidak layak. Ia sudah sedia untuk pergi sebagai utusan surga, tiada gentar oleh kemanusiaan, sebab ia telah memandang kepada Ilahi. Ia dapat berdiri tegak dan berani di hadapan raja-raja duniawi, sebab ia sudah sujud di hadapan Raja segala raja. [KSZ1 94.4]