18 Agustus 2026 · Hari 3
Hari 3: Pasal 9 - HARI-HARI PERJUANGAN
Halaman 80-81 | Pasal 9, Paragraf 9-12 | KSZ1 80.2-KSZ1 81.2
Ayat Inti
Ibrani 4:15
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran
Minggu 7 membaca Bab 9: Hari-hari Perjuangan. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Doa
Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.
Teks Lengkap
KSZ1 80.2 Semuanya ini mengecilkan hati saudara-Nya. Karena lebih tua dari Yesus mereka merasa bahwa Ia harus berada di bawah perintah mereka. Mereka mempersalahkan Dia dengan mengatakan bahwa Ia menganggap diri-Nya lebih tinggi daripada mereka, serta menegur Dia karena menempatkan diri-Nya sendiri di atas guru-guru mereka, di atas imamimam mereka dan penghulu-penghulu bangsa Yahudi. Sering mereka mengancam dan mencoba menakut-nakuti Dia; tetapi Ia berjalan terus menggunakan Alkitab sebagai penuntun-Nya.
KSZ1 80.3 Yesus mengasihi saudara-saudara-Nya, dan memperlakukan mereka itu dengan kebaikan hati yang tiada putus-putusnya; tetapi mereka cemburu pada-Nya, dan menyatakan sikap kurang percaya dan sikap memandang remeh yang nyata. Mereka tidak dapat mengerti tingkah laku-Nya. Banyak pertentangan besar nampak dalam diri Yesus. Ia adalah Anak Allah yang Ilahi namun Ia juga masih seorang anak kecil yang tidak berdaya. Sebagai Khalik segala dunia, bumi ini adalah milik-Nya, namun kemiskinan meliputi pengalaman hidup-Nya pada setiap langkah. Ia memiliki suatu kebesaran dan kepribadian yang semata-mata berbeda dengan kesombongan dan ketekaburan duniawi; Ia tidak berjuang untuk mengejar kebesaran duniawi, malah dalam kedudukan yang terhina sekali pun la merasa puas. Hal ini membangkitkan kemarahan saudarasaudara-Nya. Mereka tidak dapat mengerti ketenangan-Nya yang tetap dalam menghadapi ujian dan kemelaratan. Mereka tidak tahu bahwa untuk kepentingan kita Ia telah menjadi miskin, supaya kita “menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” 2 Kor. 8. Mereka tidak dapat mengerti rahasia tugas-Nya sama seperti sahabat-sahabat Ayub tidak dapat mengerti kehinaan serta penderitaannya.
KSZ1 81.1 Yesus disalah mengerti oleh saudara-saudara-Nya sebab Ia tidak seperti mereka. Asas yang dipegang-Nya bukanlah asas yang mereka pegang. Akibat memandang kepada manusia mereka telah menjauhkan diri dari Allah, dan mereka tidak mempunyai kuasa-Nya dalam hidup mereka. Segala peraturan agama yang mereka anut itu, tidak dapat mengubah tabiat. Mereka membayar “persepuluhan dari selasih adas manis dan jintan,” tetapi “yang terpenting dalam hukum taurat kamu abaikan yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan.” Mat. 23:23. Teladan yang diberikan Yesus merupakan suatu gangguan yang terus menerus bagi mereka. Hanya satu perkara yang dibenci-Nya di dunia ini, yaitu dosa. Ia tidak dapat menyaksikan satu perbuatan yang salah tanpa kepedihan yang tidak mungkin dapat disembunyikan. Di kalangan orangorang yang beragama sekadar peraturan saja, yang kesuciannya secara lahiriah menyembunyikan kecintaan pada dosa, dengan suatu tabiat yang dalamnya semangat untuk kemuliaan Allah selamanya paling utama, perbedaan amat nyata. Oleh karena kehidupan Yesus mempersalahkan kejahatan, Ia dilawan baik di rumah maupun di luar rumah. Sifat tidak mementingkan diri dan ketulusan-Nya dibicarakan dengan sikap mengejek. Kesabaran dan kebaikan hati-Nya disebut sebagai pengecut.
KSZ1 81.2 Dari segala kepahitan yang menjadi nasib manusia, tidak ada bagian yang tidak dirasai oleh Kristus. Ada orang yang mencoba melemparkan hinaan kepada-Nya karena kelahiran-Nya, bahkan pada waktu masih kanak-kanak pun Ia mesti menghadapi pandangan mereka yang menghina dan bisikan mereka yang jahat. Sekiranya Ia menjawab dengan pandangan yang tidak sabar, sekiranya Ia menyerah kepada saudarasaudara-Nya itu hanya oleh perlakuan yang salah, niscaya Ia sudah akan gagal menjadi suatu teladan yang sempuma. Dengan demikian Ia sudah pasti akan gagal melaksanakan rencana penebusan kita. Sekiranya Ia mengaku bahwa ada maaf untuk dosa, Setan tentu akan menang, dan dunia ini sudah pasti akan hilang. Inilah sebabnya mengapa penggoda itu bekerja untuk menjadikan hidup-Nya paling sukar, supaya Ia dapat terbawa kepada dosa.
ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL
18 Agustus 2026 | Hari 3
Hari 3: Pasal 9 - HARI-HARI PERJUANGAN
Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 9 - HARI-HARI PERJUANGAN
Halaman 80-81 | Pasal 9, Paragraf 9-12 | KSZ1 80.2-KSZ1 81.2
Ayat Inti:
Ibrani 4:15
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran:
Minggu 7 membaca Bab 9: Hari-hari Perjuangan. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Baca:
https://www.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-7-hari-3-2026-08-18
Teks Lengkap:
Semuanya ini mengecilkan hati saudara-Nya. Karena lebih tua dari Yesus mereka merasa bahwa Ia harus berada di bawah perintah mereka. Mereka mempersalahkan Dia dengan mengatakan bahwa Ia menganggap diri-Nya lebih tinggi daripada mereka, serta menegur Dia karena menempatkan diri-Nya sendiri di atas guru-guru mereka, di atas imamimam mereka dan penghulu-penghulu bangsa Yahudi. Sering mereka mengancam dan mencoba menakut-nakuti Dia; tetapi Ia berjalan terus menggunakan Alkitab sebagai penuntun-Nya. [KSZ1 80.2]
Yesus mengasihi saudara-saudara-Nya, dan memperlakukan mereka itu dengan kebaikan hati yang tiada putus-putusnya; tetapi mereka cemburu pada-Nya, dan menyatakan sikap kurang percaya dan sikap memandang remeh yang nyata. Mereka tidak dapat mengerti tingkah laku-Nya. Banyak pertentangan besar nampak dalam diri Yesus. Ia adalah Anak Allah yang Ilahi namun Ia juga masih seorang anak kecil yang tidak berdaya. Sebagai Khalik segala dunia, bumi ini adalah milik-Nya, namun kemiskinan meliputi pengalaman hidup-Nya pada setiap langkah. Ia memiliki suatu kebesaran dan kepribadian yang semata-mata berbeda dengan kesombongan dan ketekaburan duniawi; Ia tidak berjuang untuk mengejar kebesaran duniawi, malah dalam kedudukan yang terhina sekali pun la merasa puas. Hal ini membangkitkan kemarahan saudarasaudara-Nya. Mereka tidak dapat mengerti ketenangan-Nya yang tetap dalam menghadapi ujian dan kemelaratan. Mereka tidak tahu bahwa untuk kepentingan kita Ia telah menjadi miskin, supaya kita “menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” 2 Kor. 8. Mereka tidak dapat mengerti rahasia tugas-Nya sama seperti sahabat-sahabat Ayub tidak dapat mengerti kehinaan serta penderitaannya. [KSZ1 80.3]
Yesus disalah mengerti oleh saudara-saudara-Nya sebab Ia tidak seperti mereka. Asas yang dipegang-Nya bukanlah asas yang mereka pegang. Akibat memandang kepada manusia mereka telah menjauhkan diri dari Allah, dan mereka tidak mempunyai kuasa-Nya dalam hidup mereka. Segala peraturan agama yang mereka anut itu, tidak dapat mengubah tabiat. Mereka membayar “persepuluhan dari selasih adas manis dan jintan,” tetapi “yang terpenting dalam hukum taurat kamu abaikan yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan.” Mat. 23:23. Teladan yang diberikan Yesus merupakan suatu gangguan yang terus menerus bagi mereka. Hanya satu perkara yang dibenci-Nya di dunia ini, yaitu dosa. Ia tidak dapat menyaksikan satu perbuatan yang salah tanpa kepedihan yang tidak mungkin dapat disembunyikan. Di kalangan orangorang yang beragama sekadar peraturan saja, yang kesuciannya secara lahiriah menyembunyikan kecintaan pada dosa, dengan suatu tabiat yang dalamnya semangat untuk kemuliaan Allah selamanya paling utama, perbedaan amat nyata. Oleh karena kehidupan Yesus mempersalahkan kejahatan, Ia dilawan baik di rumah maupun di luar rumah. Sifat tidak mementingkan diri dan ketulusan-Nya dibicarakan dengan sikap mengejek. Kesabaran dan kebaikan hati-Nya disebut sebagai pengecut. [KSZ1 81.1]
Dari segala kepahitan yang menjadi nasib manusia, tidak ada bagian yang tidak dirasai oleh Kristus. Ada orang yang mencoba melemparkan hinaan kepada-Nya karena kelahiran-Nya, bahkan pada waktu masih kanak-kanak pun Ia mesti menghadapi pandangan mereka yang menghina dan bisikan mereka yang jahat. Sekiranya Ia menjawab dengan pandangan yang tidak sabar, sekiranya Ia menyerah kepada saudarasaudara-Nya itu hanya oleh perlakuan yang salah, niscaya Ia sudah akan gagal menjadi suatu teladan yang sempuma. Dengan demikian Ia sudah pasti akan gagal melaksanakan rencana penebusan kita. Sekiranya Ia mengaku bahwa ada maaf untuk dosa, Setan tentu akan menang, dan dunia ini sudah pasti akan hilang. Inilah sebabnya mengapa penggoda itu bekerja untuk menjadikan hidup-Nya paling sukar, supaya Ia dapat terbawa kepada dosa. [KSZ1 81.2]