17 Agustus 2026 · Hari 2
Hari 2: Pasal 9 - HARI-HARI PERJUANGAN
Halaman 78-80 | Pasal 9, Paragraf 5-8 | KSZ1 78.3-KSZ1 80.1
Ayat Inti
Ibrani 4:15
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran
Minggu 7 membaca Bab 9: Hari-hari Perjuangan. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Doa
Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.
Teks Lengkap
KSZ1 78.3 Dalam usia yang masih sangat muda, Yesus sudah mulai bertindak menurut cara-Nya sendiri dalam pembentukan tabiat-Nya, bahkan hotmat serta cinta pada orangtua-Nya sekalipun tidak dapat mencegah Dia dari penurutan kepada firman Allah. “Ada tertulis” ialah alasan-Nya bagi tiap perbuatan yang berbeda dari kebiasaan keluarga. Akan tetapi pengaruh rabi-rabi menyebabkan pengalaman hidup-Nya amat pahit. Pada masa muda-Nya sekalipun Ia mesti memahami pelajaran-pelajaran berat dalam bertahan dengan diam dan sabar.
KSZ1 79.1 Saudara-saudara-Nya, yaitu anak-anak Yusuf, memihak kepada rabirabi. Mereka bersikeras mengatakan bahwa tradisi-tradisi mesti ditaati seakan-akan hal itu adalah tuntutan Allah. Mereka bahkan menganggap segala ajaran manusia itu lebih tinggi daripada firman Allah, dan mereka merasa sangat tersinggung oleh ketajaman otak Yesus dalam membedakan antara yang salah dan yang benar. Ketaatan-Nya yang saksama pada hukum Allah mereka salahkan sebagai kedegilan. Mereka merasa heran akan pengetahuan serta akal budi yang ditunjukkan-Nya dalam menjawab rabi-rabi. Mereka tahu bahwa Ia tidak pernah mendapat pelajaran dari orang-orang terpelajar itu, namun mereka terpaksa melihat bahwa Ia merupakan seorang guru bagi mereka. Mereka mengakui bahwa pendidikan-Nya mengandung jenis yang lebih tinggi daripada pendidikan mereka. Tetapi mereka tidak melihat bahwa Ia dapat menghampiri pohon kehidupan, yaitu sebuah sumber ilmu pengetahuan yang tentang itu mereka tidak mengetahui sedikit pun.
KSZ1 79.2 Kristus tidak mengasingkan diri, dan Ia telah begitu menyinggung perasaan kaum Farisi oleh menyimpang dalam hal ini dari peraturan-peraturan mereka yang keras itu. Ia melihat lapangan agama dipagari dengan tembok pemisah yang tinggi-tinggi, sebagai sesuatu yang terlalu keramat untuk kehidupan sehari-hari. Tembok pemisah ini dihancurkan-Nya. Dalam pergaulan-Nya dengan manusia Ia tidak bertanya, Apa agamamu? Apakah gerejamu? Ia menggunakan kuasa-Nya untuk kepentingan semua orang yang memerlukan pertolongan. Gantinya mengasingkan diri dalam rumah pertapaan agar dapat menunjukkan tabiat semawi-Nya, Ia bekerja dengan tekun untuk umat manusia. Ia menanamkan asas bahwa agama Kitab Suci tidak bergantung kepada penyiksaan tubuh. Ia menga-jarkan bahwa agama yang suci dan tidak bercacat bukannya dimaksudkan semata-mata untuk waktu-waktu tertentu dan untuk saat-saat istimewa. Pada segala waktu dan di segala tempat Ia menyatakan minat yang penuh kasih sayang terhadap manusia, serta memancarkan di sekelilingNya cahaya belas kasaihan yang gembira. Semuanya ini merupakan suatu tempelakan bagi orang Farisi. Hal ini menunjukkan bahwa agama tidak bergantung kepada sifat mementingkan diri dan bahwa pengabdian mereka yang tidak sehat itu kepada kepentingan diri sendiri adalah jauh dari ibadah yang sejati. Hal ini telah membangkitkan permusuhan mereka melawan Yesus, sehingga mereka mencoba memaksakan penu. rutan-Nya kepada segala peraturan mereka.
KSZ1 80.1 Yesus bekerja untuk meringankan setiap penderitaan yang dilihat. Nya. Ia mempunyai sedikit uang untuk diamalkan, tetapi Ia acapkali tidak makan untuk memberikan makanan kepada orang-orang yang lebih berkekurangan daripada-Nya. Saudara-saudara-Nya merasa bahwa pengaruh-Nya banyak berperan untuk merintangi pengaruh mereka. Ia mempunyai akal budi yang tidak dimiliki oleh seorang pun dari mereka atau yang ingin mereka miliki. Kalau mereka berbicara kasar kepada orang yang miskin dan hina, Yesus justru mencari orang-orang yang malang ini, serta memberanikan hati mereka. Kepada orang-orang yang berkekurangan Ia suka memberikan secangkir air sejuk, seraya dengan diam-diam menaruh makanan-Nya sendiri ke tangan mereka. Sementara Ia meringankan penderitaan mereka, segala kebenaran yang diajarkanNya dihubungkan dengan perbuatan rahmat-Nya itu, dan dengan demikian terukir dalam ingatan.
ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL
17 Agustus 2026 | Hari 2
Hari 2: Pasal 9 - HARI-HARI PERJUANGAN
Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 9 - HARI-HARI PERJUANGAN
Halaman 78-80 | Pasal 9, Paragraf 5-8 | KSZ1 78.3-KSZ1 80.1
Ayat Inti:
Ibrani 4:15
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran:
Minggu 7 membaca Bab 9: Hari-hari Perjuangan. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Baca:
https://www.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-7-hari-2-2026-08-17
Teks Lengkap:
Dalam usia yang masih sangat muda, Yesus sudah mulai bertindak menurut cara-Nya sendiri dalam pembentukan tabiat-Nya, bahkan hotmat serta cinta pada orangtua-Nya sekalipun tidak dapat mencegah Dia dari penurutan kepada firman Allah. “Ada tertulis” ialah alasan-Nya bagi tiap perbuatan yang berbeda dari kebiasaan keluarga. Akan tetapi pengaruh rabi-rabi menyebabkan pengalaman hidup-Nya amat pahit. Pada masa muda-Nya sekalipun Ia mesti memahami pelajaran-pelajaran berat dalam bertahan dengan diam dan sabar. [KSZ1 78.3]
Saudara-saudara-Nya, yaitu anak-anak Yusuf, memihak kepada rabirabi. Mereka bersikeras mengatakan bahwa tradisi-tradisi mesti ditaati seakan-akan hal itu adalah tuntutan Allah. Mereka bahkan menganggap segala ajaran manusia itu lebih tinggi daripada firman Allah, dan mereka merasa sangat tersinggung oleh ketajaman otak Yesus dalam membedakan antara yang salah dan yang benar. Ketaatan-Nya yang saksama pada hukum Allah mereka salahkan sebagai kedegilan. Mereka merasa heran akan pengetahuan serta akal budi yang ditunjukkan-Nya dalam menjawab rabi-rabi. Mereka tahu bahwa Ia tidak pernah mendapat pelajaran dari orang-orang terpelajar itu, namun mereka terpaksa melihat bahwa Ia merupakan seorang guru bagi mereka. Mereka mengakui bahwa pendidikan-Nya mengandung jenis yang lebih tinggi daripada pendidikan mereka. Tetapi mereka tidak melihat bahwa Ia dapat menghampiri pohon kehidupan, yaitu sebuah sumber ilmu pengetahuan yang tentang itu mereka tidak mengetahui sedikit pun. [KSZ1 79.1]
Kristus tidak mengasingkan diri, dan Ia telah begitu menyinggung perasaan kaum Farisi oleh menyimpang dalam hal ini dari peraturan-peraturan mereka yang keras itu. Ia melihat lapangan agama dipagari dengan tembok pemisah yang tinggi-tinggi, sebagai sesuatu yang terlalu keramat untuk kehidupan sehari-hari. Tembok pemisah ini dihancurkan-Nya. Dalam pergaulan-Nya dengan manusia Ia tidak bertanya, Apa agamamu? Apakah gerejamu? Ia menggunakan kuasa-Nya untuk kepentingan semua orang yang memerlukan pertolongan. Gantinya mengasingkan diri dalam rumah pertapaan agar dapat menunjukkan tabiat semawi-Nya, Ia bekerja dengan tekun untuk umat manusia. Ia menanamkan asas bahwa agama Kitab Suci tidak bergantung kepada penyiksaan tubuh. Ia menga-jarkan bahwa agama yang suci dan tidak bercacat bukannya dimaksudkan semata-mata untuk waktu-waktu tertentu dan untuk saat-saat istimewa. Pada segala waktu dan di segala tempat Ia menyatakan minat yang penuh kasih sayang terhadap manusia, serta memancarkan di sekelilingNya cahaya belas kasaihan yang gembira. Semuanya ini merupakan suatu tempelakan bagi orang Farisi. Hal ini menunjukkan bahwa agama tidak bergantung kepada sifat mementingkan diri dan bahwa pengabdian mereka yang tidak sehat itu kepada kepentingan diri sendiri adalah jauh dari ibadah yang sejati. Hal ini telah membangkitkan permusuhan mereka melawan Yesus, sehingga mereka mencoba memaksakan penu. rutan-Nya kepada segala peraturan mereka. [KSZ1 79.2]
Yesus bekerja untuk meringankan setiap penderitaan yang dilihat. Nya. Ia mempunyai sedikit uang untuk diamalkan, tetapi Ia acapkali tidak makan untuk memberikan makanan kepada orang-orang yang lebih berkekurangan daripada-Nya. Saudara-saudara-Nya merasa bahwa pengaruh-Nya banyak berperan untuk merintangi pengaruh mereka. Ia mempunyai akal budi yang tidak dimiliki oleh seorang pun dari mereka atau yang ingin mereka miliki. Kalau mereka berbicara kasar kepada orang yang miskin dan hina, Yesus justru mencari orang-orang yang malang ini, serta memberanikan hati mereka. Kepada orang-orang yang berkekurangan Ia suka memberikan secangkir air sejuk, seraya dengan diam-diam menaruh makanan-Nya sendiri ke tangan mereka. Sementara Ia meringankan penderitaan mereka, segala kebenaran yang diajarkanNya dihubungkan dengan perbuatan rahmat-Nya itu, dan dengan demikian terukir dalam ingatan. [KSZ1 80.1]