30 Maret 2027 · Hari 3
Hari 3: Pasal 42 - TRADISI
Halaman 430-431 | Pasal 42, Paragraf 6-7 | KSZ1 430.4-KSZ1 431.1
Ayat Inti
Markus 7:8
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran
Minggu 39 membaca Bab 42: Tradisi. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Doa
Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.
Teks Lengkap
KSZ1 430.4 Manakala pekabaran mempengaruhi jiwa-jiwa dengan kuasa istimewa, Setan menghasut agen-agennya untuk memulai suatu perdebatan mengenai persoalan yang sepele saja. Dengan demikian ia berusaha me-narik perhatian dari masalah yang sebenarnya. Bila suatu pekerjaan yang baik dimulai, terdapatlah para pengecam yang bersedia memasuki per-debatan tentang tatacara atau persoalan teknis, untuk menarik pikiran dari kenyataan yang hidup. Bila tampaknya Allah hampir bekerja bagi umat-Nya dalam cara yang istimewa, jangan hendaknya mereka dibujuk untuk memasuki pertentangan yang hanya akan mengadakan kebinasaan jiwa-jiwa. Persoalan yang akan menjadi perhatian kita yang utama ialah. Apakah saya percaya dengan iman yang menyelamatkan pada Anak Allah? Apakah kehidupan saya sesuai dengan hukum Ilahi? “Barangsiapa yang percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup.” “Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya.” Yoh. 3:36; 1 Yoh. 2:3.
KSZ1 431.1 Yesus tidak berusaha mempertahankan diri-Nya atau murid-muridNya. Ia tidak menyinggung tuduhan terhadap-Nya, melainkan meneruskan untuk menunjukkan sifat para penuduh-Nya yang keji itu. Ia memberikan kepada mereka suatu contoh mengenai apa yang sedang mereka lakukan berulang-ulang, dan sudah dilakukan sebelum mereka datang mencari Dia. “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah,” kata-Nya, “Supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban—yaitu persembahan kepada Allah,—maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk bapanya atau ibunya.” Mereka mengesampingkan hukum kelima sebagai sesuatu yang tidak penting, tetapi sangat teliti melakukan tradisi-tradisi orang-orang tua. Mereka mengajarkan kepada orang banyak bahwa menyerahkan harta mereka ke Bait Suci merupakan suatu kewajiban yang lebih suci daripada menyokong orangtua mereka; dan betapa besarnya keperluan itu seka-lipun, adalah suatu kenajisan memberikan kepada bapa atau ibu sebagian dari apa yang sudah diserahkan seperti itu. Seorang anak yang durhaka hanya mengucapkan kata “Korban” atas hartanya, dengan demikian me-nyerahkannya kepada Allah, dan ia dapat menahannya untuk digunakan-nya sendiri selama ia hidup, dan sesudah kematiannya harta itu harus diserahkan untuk upacara Bait Suci. Dengan demikian, baik hidup atau mati, ia bebas untuk tidak menghormati dan menipu orangtuanya, dengan dalih pura-pura kasih kepada Allah.
ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL
30 Maret 2027 | Hari 3
Hari 3: Pasal 42 - TRADISI
Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 42 - TRADISI
Halaman 430-431 | Pasal 42, Paragraf 6-7 | KSZ1 430.4-KSZ1 431.1
Ayat Inti:
Markus 7:8
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran:
Minggu 39 membaca Bab 42: Tradisi. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Baca:
https://www.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-39-hari-3-2027-03-30
Teks Lengkap:
Manakala pekabaran mempengaruhi jiwa-jiwa dengan kuasa istimewa, Setan menghasut agen-agennya untuk memulai suatu perdebatan mengenai persoalan yang sepele saja. Dengan demikian ia berusaha me-narik perhatian dari masalah yang sebenarnya. Bila suatu pekerjaan yang baik dimulai, terdapatlah para pengecam yang bersedia memasuki per-debatan tentang tatacara atau persoalan teknis, untuk menarik pikiran dari kenyataan yang hidup. Bila tampaknya Allah hampir bekerja bagi umat-Nya dalam cara yang istimewa, jangan hendaknya mereka dibujuk untuk memasuki pertentangan yang hanya akan mengadakan kebinasaan jiwa-jiwa. Persoalan yang akan menjadi perhatian kita yang utama ialah. Apakah saya percaya dengan iman yang menyelamatkan pada Anak Allah? Apakah kehidupan saya sesuai dengan hukum Ilahi? “Barangsiapa yang percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup.” “Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya.” Yoh. 3:36; 1 Yoh. 2:3. [KSZ1 430.4]
Yesus tidak berusaha mempertahankan diri-Nya atau murid-muridNya. Ia tidak menyinggung tuduhan terhadap-Nya, melainkan meneruskan untuk menunjukkan sifat para penuduh-Nya yang keji itu. Ia memberikan kepada mereka suatu contoh mengenai apa yang sedang mereka lakukan berulang-ulang, dan sudah dilakukan sebelum mereka datang mencari Dia. “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah,” kata-Nya, “Supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban—yaitu persembahan kepada Allah,—maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk bapanya atau ibunya.” Mereka mengesampingkan hukum kelima sebagai sesuatu yang tidak penting, tetapi sangat teliti melakukan tradisi-tradisi orang-orang tua. Mereka mengajarkan kepada orang banyak bahwa menyerahkan harta mereka ke Bait Suci merupakan suatu kewajiban yang lebih suci daripada menyokong orangtua mereka; dan betapa besarnya keperluan itu seka-lipun, adalah suatu kenajisan memberikan kepada bapa atau ibu sebagian dari apa yang sudah diserahkan seperti itu. Seorang anak yang durhaka hanya mengucapkan kata “Korban” atas hartanya, dengan demikian me-nyerahkannya kepada Allah, dan ia dapat menahannya untuk digunakan-nya sendiri selama ia hidup, dan sesudah kematiannya harta itu harus diserahkan untuk upacara Bait Suci. Dengan demikian, baik hidup atau mati, ia bebas untuk tidak menghormati dan menipu orangtuanya, dengan dalih pura-pura kasih kepada Allah. [KSZ1 431.1]