26 Maret 2027 · Hari 6
Hari 6: Pasal 41 - KRISIS DI GALILEA
Halaman 424-426 | Pasal 41, Paragraf 37-43 | KSZ1 424.2-KSZ1 426.2
Ayat Inti
Yohanes 6:68
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran
Minggu 38 membaca Bab 41: Krisis di Galilea. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Doa
Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.
Teks Lengkap
KSZ1 424.2 Oleh tempelakan terhadap kurangnya percaya mereka di hadapan umum, murid-murid ini malah lebih menjauhkan diri dari Yesus. Mereka merasa kurang senang, dan dalam keinginan hendak melukai perasaan Juruselamat dan memuaskan kebencian orang Farisi, mereka membe-lakangi Dia dan meninggalkan Dia dengan penghinaan. Mereka telah mengadakan pilihan mereka,—mereka tidak mau mengatakan penyerahan yang sempurna. Keputusan mereka tidak pernah dibatalkan sesudah itu; karena mereka tidak lagi berjalan dengan Yesus.
KSZ1 424.3 “Alat penampi sudah di tangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung.” Mat. 3:12. Inilah salah satu saat pembersihan. Oleh firman kebenaran, sekam dipisahkan dari gandum. Karena mereka terlalu congkak dan menganggap diri benar sehingga tidak dapat menerima teguran, terlalu mencintai dunia sehingga tidak dapat menerima kerendahan hidup, banyak dari mereka berbalik dari Yesus. Kebanyakan masih melakukan perkara yang sama. Dewasa ini jiwa-jiwa diuji sebagaimana halnya dengan murid-murid dalam rumah sembahyang di Kapernaum. Bila kebenaran dijelaskan dalam hati, mereka melihat bahwa kehidupan me-reka tidak sesuai dengan kehendak Allah. Mereka melihat perlunya per-ubahan menyeluruh dalam diri mereka sendiri; tetapi mereka tidak sudi menanggung pekerjaan yang menuntut penyangkalan diri. Sebab itu me-reka marah bila dosa-dosa mereka ditemukan. Mereka pergi dengan pe-rasaan sakit hati, sebagaimana murid-murid meninggalkan Yesus, sambil bersungut, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengar-kannya?”
KSZ1 425.1 Pujian dan belaian menyenangkan pada pendengaran mereka, tetapi kebenaran tidak disambut dengan gembira; mereka tidak dapat mende-ngarnya. Ketika orang banyak mengikuti, dan diberi makan, dan sorak sorai kemenangan kedengaran, suara mereka menyaringkan puji-pujian; tetapi bila pemeriksaan Roh Allah menyatakan dosa mereka, dan menyu-ruh mereka meninggalkannya, mereka membelakangi kebenaran, dan tidak lagi berjalan dengan Yesus.
KSZ1 425.2 Ketika murid-murid yang tidak setia itu berbalik dari Kristus, suatu roh yang lain menguasai mereka. Mereka tidak dapat melihat sesuatu yang menarik dalam Dia, yang tadinya mereka dapati sangat menarik. Mereka mencari musuh-musuh-Nya, karena musuh-musuh itu sesuai dengan roh dan pekerjaan mereka. Mereka salah menafsirkan perkataanNya, memalsukan pernyataan-Nya, serta menentang motif-Nya. Mereka mempertahankan perlakuan mereka dengan mengumpulkan setiap perkara yang dapat menentang Dia; dan kemarahan seperti itu dibangkitkan oleh laporan yang tidak benar sehingga hidup-Nya berada dalam bahaya
KSZ1 425.3 Kabar tersiar dengan cepatnya bahwa atas pengakuan-Nya sendiri Yesus orang Nazaret adalah Mesias. Dan dengan demikian perasaan khalayak ramai di Galilea dialihkan untuk melawan Dia, sebagaimana pada tahun sudah dialami di Yudea. Wahai Israel! Mereka menolak Juruselamat mereka, karena mereka merindukan seorang pe-menang yang akan memberi mereka kuasa duniawi. Mereka menghendaki daging yang akan binasa, tetapi bukannya yang akan tahan sampai hidup kekal.
KSZ1 426.1 Dengan hati yang penuh kerinduan, Yesus melihat mereka yang pernah menjadi murid-murid-Nya meninggalkan Dia, Hidup dan Terang bagi manusia. Rasa kesadaran bahwa belas kasihan-Nya tidak dihargai, kasih-Nya tidak dibalas, kemurahan-Nya diremehkan, keselamatan-Nya ditolak, memenuhi Dia dengan kesedihan yang tidak terperikan. Perkembangan seperti itulah yang menjadikan Dia seorang yang kena sengsara dan yang biasa dalam kesukaran.
KSZ1 426.2 Tanpa berusaha menghalangi mereka yang sedang meninggalkan Dia, Yesus berpaling kepada kedua belas murid-Nya seraya berkata, Apakah kamu tidak mau pergi juga?”
ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL
26 Maret 2027 | Hari 6
Hari 6: Pasal 41 - KRISIS DI GALILEA
Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 41 - KRISIS DI GALILEA
Halaman 424-426 | Pasal 41, Paragraf 37-43 | KSZ1 424.2-KSZ1 426.2
Ayat Inti:
Yohanes 6:68
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran:
Minggu 38 membaca Bab 41: Krisis di Galilea. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Baca:
https://www.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-38-hari-6-2027-03-26
Teks Lengkap:
Oleh tempelakan terhadap kurangnya percaya mereka di hadapan umum, murid-murid ini malah lebih menjauhkan diri dari Yesus. Mereka merasa kurang senang, dan dalam keinginan hendak melukai perasaan Juruselamat dan memuaskan kebencian orang Farisi, mereka membe-lakangi Dia dan meninggalkan Dia dengan penghinaan. Mereka telah mengadakan pilihan mereka,—mereka tidak mau mengatakan penyerahan yang sempurna. Keputusan mereka tidak pernah dibatalkan sesudah itu; karena mereka tidak lagi berjalan dengan Yesus. [KSZ1 424.2]
“Alat penampi sudah di tangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung.” Mat. 3:12. Inilah salah satu saat pembersihan. Oleh firman kebenaran, sekam dipisahkan dari gandum. Karena mereka terlalu congkak dan menganggap diri benar sehingga tidak dapat menerima teguran, terlalu mencintai dunia sehingga tidak dapat menerima kerendahan hidup, banyak dari mereka berbalik dari Yesus. Kebanyakan masih melakukan perkara yang sama. Dewasa ini jiwa-jiwa diuji sebagaimana halnya dengan murid-murid dalam rumah sembahyang di Kapernaum. Bila kebenaran dijelaskan dalam hati, mereka melihat bahwa kehidupan me-reka tidak sesuai dengan kehendak Allah. Mereka melihat perlunya per-ubahan menyeluruh dalam diri mereka sendiri; tetapi mereka tidak sudi menanggung pekerjaan yang menuntut penyangkalan diri. Sebab itu me-reka marah bila dosa-dosa mereka ditemukan. Mereka pergi dengan pe-rasaan sakit hati, sebagaimana murid-murid meninggalkan Yesus, sambil bersungut, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengar-kannya?” [KSZ1 424.3]
Pujian dan belaian menyenangkan pada pendengaran mereka, tetapi kebenaran tidak disambut dengan gembira; mereka tidak dapat mende-ngarnya. Ketika orang banyak mengikuti, dan diberi makan, dan sorak sorai kemenangan kedengaran, suara mereka menyaringkan puji-pujian; tetapi bila pemeriksaan Roh Allah menyatakan dosa mereka, dan menyu-ruh mereka meninggalkannya, mereka membelakangi kebenaran, dan tidak lagi berjalan dengan Yesus. [KSZ1 425.1]
Ketika murid-murid yang tidak setia itu berbalik dari Kristus, suatu roh yang lain menguasai mereka. Mereka tidak dapat melihat sesuatu yang menarik dalam Dia, yang tadinya mereka dapati sangat menarik. Mereka mencari musuh-musuh-Nya, karena musuh-musuh itu sesuai dengan roh dan pekerjaan mereka. Mereka salah menafsirkan perkataanNya, memalsukan pernyataan-Nya, serta menentang motif-Nya. Mereka mempertahankan perlakuan mereka dengan mengumpulkan setiap perkara yang dapat menentang Dia; dan kemarahan seperti itu dibangkitkan oleh laporan yang tidak benar sehingga hidup-Nya berada dalam bahaya [KSZ1 425.2]
Kabar tersiar dengan cepatnya bahwa atas pengakuan-Nya sendiri Yesus orang Nazaret adalah Mesias. Dan dengan demikian perasaan khalayak ramai di Galilea dialihkan untuk melawan Dia, sebagaimana pada tahun sudah dialami di Yudea. Wahai Israel! Mereka menolak Juruselamat mereka, karena mereka merindukan seorang pe-menang yang akan memberi mereka kuasa duniawi. Mereka menghendaki daging yang akan binasa, tetapi bukannya yang akan tahan sampai hidup kekal. [KSZ1 425.3]
Dengan hati yang penuh kerinduan, Yesus melihat mereka yang pernah menjadi murid-murid-Nya meninggalkan Dia, Hidup dan Terang bagi manusia. Rasa kesadaran bahwa belas kasihan-Nya tidak dihargai, kasih-Nya tidak dibalas, kemurahan-Nya diremehkan, keselamatan-Nya ditolak, memenuhi Dia dengan kesedihan yang tidak terperikan. Perkembangan seperti itulah yang menjadikan Dia seorang yang kena sengsara dan yang biasa dalam kesukaran. [KSZ1 426.1]
Tanpa berusaha menghalangi mereka yang sedang meninggalkan Dia, Yesus berpaling kepada kedua belas murid-Nya seraya berkata, Apakah kamu tidak mau pergi juga?” [KSZ1 426.2]