Hari 6: Pasal 5 - PENYERAHAN
24 Juli 2026 · Hari 6

Hari 6: Pasal 5 - PENYERAHAN

Halaman 46-47 | Pasal 5, Paragraf 20-22 | KSZ1 46.3-KSZ1 47.2

Ayat Inti

Roma 12:1

Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran

Minggu ketiga menolong kita merenungkan sikap hati yang menyerah kepada kehendak Allah. Misi dimulai dari hati yang bersedia dibentuk, bukan hanya dari program yang rapi.

Doa

Tuhan, bentuk hati kami agar rela dipakai dalam misi-Mu. Amin.

Teks Lengkap

KSZ1 46.3 Maria mengharapkan Mesias berkerajaan di atas takhta Daud, akan tetapi ia tidak melihat baptisan penderitaan dengan mana hal itu wajib dicapai. Oleh Simeon sudah dinyatakan bahwa Mesias tidak akan menempuh jalan yang bebas dari rintangan di dunia ini. Dalam ucapan kepada Maria, “Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri,” Allah dalam kasih-Nya yang lemah lembut memberikan kepada ibu Yesus amaran tentang penderitaan yang karena-Nya sudah mulai dideritanya.”

KSZ1 47.1 “Sesungguhnya,” Simeon telah berkata, “Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk men-jadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan.” Mereka yang akan bangkit pula harus lebih dulu jatuh. Kita mesti jatuh ke atas Batu itu dan hancur, sebelum kita dapat diangkat dalam Kristus. Diri harus diturunkan dari takhtanya, kesombongan harus direndahkan, kalau kita hendak me-ngetahui kemuliaan kerajaan kerohanian. Orang Yahudi tidak mau mene-rima kehormatan yang dicapai dengan jalan kerendahan. Sebab itu mereka tidak mau menerima Penebusnya. Ialah tanda yang akan diperbantahkan orang itu.

KSZ1 47.2 “Supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” Dalam terang ke-hidupan Juruselamat, hati sekalian orang, bahkan dari Khalik hingga raja kegelapan, dinyatakan. Setan telah melukiskan Allah sebagai memen-tingkan diri dan suka menindas, menuntut semuanya tetapi tidak mem-berikan sesuatu, meminta pelayanan dari segala makhluk-Nya demi kemuliaan-Nya sendiri, tetapi tidak suka mengadakan sesuatu pengorbanan demi kebaikan mereka itu. Tetapi karunia Kristus menyatakan hati Bapa. Disaksikannya bahwa pikiran Allah terhadap kita adalah “rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan.” Yeremia 29:11. Hal itu menandaskan bahwa meskipun kebencian hati Allah terhadap dosa kuat laksana maut, kasih-Nya kepada orang berdosa lebih kuat daripada maut. Setelah melaksanakan penebusan kita, Ia tidak akan menahan barang sesuatu, bagaimana pun mahalnya, yang perlu untuk penyempurnaan pekerjaan-Nya. Tiada kebenaran penting yang ditahankan bagi kese-lamatan kita, tiada mukjizat kemurahan yang dilalaikan, tiada alat Ilahi yang tidak digunakan. Keridlaan ditimbun atas keridlaan, karunia atas karunia. Seluruh perbendaharaan surga terbuka bagi orang-orang yang hendak diselamatkan-Nya. Sesudah mengumpulkan kekayaan alam se-mesta, dan membukakan sumber-sumber kekuasaan yang tidak terhingga, diserahkan-Nya semuanya ini ke tangan Kristus, seraya bersabda, Se-muanya ini adalah untuk manusia. Gunakanlah segala karunia ini untuk menginsafkan manusia itu bahwa tidak ada kasih yang lebih besar dari-pada kasih-Ku di dunia atau di surga. Kebahagiaannya yang terbesar akan terdapat dalam mengasihi Aku.

ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL

24 Juli 2026 | Hari 6
Hari 6: Pasal 5 - PENYERAHAN

Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 5 - PENYERAHAN
Halaman 46-47 | Pasal 5, Paragraf 20-22 | KSZ1 46.3-KSZ1 47.2

Ayat Inti:
Roma 12:1
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran:
Minggu ketiga menolong kita merenungkan sikap hati yang menyerah kepada kehendak Allah. Misi dimulai dari hati yang bersedia dibentuk, bukan hanya dari program yang rapi.

Baca:
https://www.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-3-hari-6-2026-07-24

Teks Lengkap:

Maria mengharapkan Mesias berkerajaan di atas takhta Daud, akan tetapi ia tidak melihat baptisan penderitaan dengan mana hal itu wajib dicapai. Oleh Simeon sudah dinyatakan bahwa Mesias tidak akan menempuh jalan yang bebas dari rintangan di dunia ini. Dalam ucapan kepada Maria, “Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri,” Allah dalam kasih-Nya yang lemah lembut memberikan kepada ibu Yesus amaran tentang penderitaan yang karena-Nya sudah mulai dideritanya.” [KSZ1 46.3]

“Sesungguhnya,” Simeon telah berkata, “Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk men-jadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan.” Mereka yang akan bangkit pula harus lebih dulu jatuh. Kita mesti jatuh ke atas Batu itu dan hancur, sebelum kita dapat diangkat dalam Kristus. Diri harus diturunkan dari takhtanya, kesombongan harus direndahkan, kalau kita hendak me-ngetahui kemuliaan kerajaan kerohanian. Orang Yahudi tidak mau mene-rima kehormatan yang dicapai dengan jalan kerendahan. Sebab itu mereka tidak mau menerima Penebusnya. Ialah tanda yang akan diperbantahkan orang itu. [KSZ1 47.1]

“Supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” Dalam terang ke-hidupan Juruselamat, hati sekalian orang, bahkan dari Khalik hingga raja kegelapan, dinyatakan. Setan telah melukiskan Allah sebagai memen-tingkan diri dan suka menindas, menuntut semuanya tetapi tidak mem-berikan sesuatu, meminta pelayanan dari segala makhluk-Nya demi kemuliaan-Nya sendiri, tetapi tidak suka mengadakan sesuatu pengorbanan demi kebaikan mereka itu. Tetapi karunia Kristus menyatakan hati Bapa. Disaksikannya bahwa pikiran Allah terhadap kita adalah “rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan.” Yeremia 29:11. Hal itu menandaskan bahwa meskipun kebencian hati Allah terhadap dosa kuat laksana maut, kasih-Nya kepada orang berdosa lebih kuat daripada maut. Setelah melaksanakan penebusan kita, Ia tidak akan menahan barang sesuatu, bagaimana pun mahalnya, yang perlu untuk penyempurnaan pekerjaan-Nya. Tiada kebenaran penting yang ditahankan bagi kese-lamatan kita, tiada mukjizat kemurahan yang dilalaikan, tiada alat Ilahi yang tidak digunakan. Keridlaan ditimbun atas keridlaan, karunia atas karunia. Seluruh perbendaharaan surga terbuka bagi orang-orang yang hendak diselamatkan-Nya. Sesudah mengumpulkan kekayaan alam se-mesta, dan membukakan sumber-sumber kekuasaan yang tidak terhingga, diserahkan-Nya semuanya ini ke tangan Kristus, seraya bersabda, Se-muanya ini adalah untuk manusia. Gunakanlah segala karunia ini untuk menginsafkan manusia itu bahwa tidak ada kasih yang lebih besar dari-pada kasih-Ku di dunia atau di surga. Kebahagiaannya yang terbesar akan terdapat dalam mengasihi Aku. [KSZ1 47.2]