Hari 2: Pasal 31 - KHOTBAH DI ATAS BUKIT
11 Januari 2027 · Hari 2

Hari 2: Pasal 31 - KHOTBAH DI ATAS BUKIT

Halaman 320-323 | Pasal 31, Paragraf 10-18 | KSZ1 320.2-KSZ1 323.1

Ayat Inti

Matius 5:3

Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran

Minggu 28 membaca Bab 31: Khotbah di Atas Bukit. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.

Doa

Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.

Teks Lengkap

KSZ1 320.2 Kadang-kadang kita menyesali akibat dari perbuatan yang jahat yang menimpa kita; tetapi ini bukanlah pertobatan. Penyesalan yang sesung-guhnya akan dosa adalah akibat dari pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus menunjukkan hati yang tiada berterimakasih yang telah meremehkan dan mendukakan Juruselamat, dan membawa kita kepada penyesalan ke kaki salib. Oleh tiap-tiap dosa Yesus dilukai lagi; dan apabila kita memandang kepada-Nya yang telah kita tusuk, kita berdukacita karena dosa-dosa yang membawa kepedihan kepada-Nya. Dukacita yang demikian itu akan membawa kepada penolakan dosa.

KSZ1 320.3 Dunia mungkin berpendapat bahwa penyesalan ini satu kelemahan; tetapi itulah kekuatan yang mengikat orang yang bertobat kepada yang tidak terbatas dengan mata rantai yang tidak dapat diputuskan. Dinyata-kannya bahwa malaikat-malaikat Allah membawa kepada jiwa kemurahan yang telah hilang oleh kekerasan hati dan pelanggaran. Air mata orang-orang yang menyesal itu hanyalah tetesan hujan yang men-dahului cahaya terang kemuliaan. Dukacita ini memaklumkan satu ke-sukaan yang akan menjadi satu pancaran hidup di dalam jiwa. “Hanya akuilah kesalahanmu, bahwa engkau telah mendurhaka terhadap Tuhan. Aliahmu” “Muka-Ku tidak akan muram terhadap kamu, sebab Aku ini murah hati, demikianlah firman Tuhan ” Yeremia 3:13, 12. “Kepada segala orang Sion yang berdukacita.” Ia telah berjanji memberikan “perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar.” Yesaya 61:3.

KSZ1 320.4 Dan bagi mereka yang berduka di dalam ujian dan kedukaan terdapatlah penghiburan. Pahitnya kesusahan dan penghinaan adalah lebih baik daripada bermanja-manja dalam dosa. Melalui kesengsaraan Allah menunjukkan kepada kita noda kotor di dalam tabiat kita, dan oleh ke-murahan Allah kita dapat menaklukkan kesalahan kita. Pasal-pasal yang tidak tampak mengenai diri kita sendiri dibukakan kepada kita, dan ujian datang, apakah kita akan menerima teguran dan nasihat Allah. Jika terbawa ke dalam ujian, kita tidak boleh gusar dan bersungut. Kita jangan melawan, atau menggelisahkan diri kita lepas dari pada tangan Kristus. Kita harus merendahkan jiwa di hadapan Allah. Cara-cara Tuhan itu ku-rang jelas bagi mereka yang ingin melihat sesuatu di dalam satu terang yang berkenan bagi dirinya sendiri. Cara-cara itu kelihatan suram dan tanpa kegembiraan kepada sifat kita manusia. Akan tetapi jalan Tuhan adalah jalan kemurahan dan akhirnya adalah keselamatan. Elia tidak me-ngetahui apa yang diperbuatnya apabila di padang belantara ia berkata bahwa ia sudah cukup lama hidup, dan ia berdoa agar ia mati saja. Allah dalam kemurahan-Nya tidak menuruti dia pada waktu itu. Masih ada pekerjaan yang besar yang akan dikerjakan Elia, dan sesudah pekerjaan-nya selesai, ia tidak akan binasa dalam kekecewaan dan kesepian di padang belantara. Bukannya masuk liang lahat, tetapi akan diangkat di dalam kemuliaan dengan pasukan kereta surga, menuju takhta yang mahatinggi.

KSZ1 321.1 Firman Tuhan terhadap dukacita yang demikian ialah: “Aku telah me-lihat segala jalannya itu, tetapi Aku akan menyembuhkan dan akan menuntun dia dan akan memulihkan dia dengan penghiburan; juga pada bibir orang-orangnya yang berkabung.” “Aku mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan, akan menghibur mereka dan menyukakan mereka sesudah kedukaan mereka.” Yesaya 57:18; Yeremia 31:13.

KSZ1 321.2 “Berbahagialah orang yang lemah lembut.” Kesukaran yang akan kita hadapi boleh berkurang oleh kelemahlembutan yang tersembunyi di da-lam Kristus. Jika kita memiliki kerendahan hati Tuhan kita, kita akan le-pas dari sifat remeh, penolakan, sakit hati, yang ke dalamnya kita terje-rumus tiap hari, dan tabiat-tabiat itu akan berhenti mendatangkan kege-lapan atas jiwa. Bukti yang tertinggi dari ketinggian budi di dalam Kekristenan ialah pengendalian diri Orang yang ada di bawah kejahatan dan kebengisan gagal memiliki sifat tenang dan roh yang penuh kepercayaan serta merampok Tuhan dari hak-Nya untuk menyatakan di dalamnya kesempurnaan tabiat-Nya. Kerendahan hati itu adalah kekuatan yang memberi kemenangan kepada pengikut-pengikut Kristus; itu adalah tanda hubungan mereka dengan pengadilan surga.

KSZ1 322.1 “Tuhan itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina.” Mazmur 138:6 Mereka yang menunjukkan kelemahlembutan dan kerendahan hati Krisv tus itulah yang berkenan pada pandangan Allah. Boleh jadi dunia meng^ anggap mereka hina, tetapi pada pemandangan-Nya mereka tinggi nilau nya. Bukan hanya yang bijaksana, yang besar, dermawan, akan menu peroleh paspor ke halaman surga; bukan hanya pekerja yang sibuk yan^ penuh semangat dan tidak kenal berhenti. Bukan; yang miskin rohanj^ yang merindukan kehadiran Kristus, yang lemah lembut, yang mempi^ nyai cita-cita tertinggi melakukan kehendak Allah—mereka ini aka^ memperoleh hak masuk yang berkelimpahan. Mereka akan berada di antara orang yang membasuh jubah mereka dan membuat mereka putih di dalam darah Anak Domba. “Karena itu mereka berdiri di hadapan takht^ Allah dan melayani Dia siang malam di Bait Suci-Nya. Dan Ia yang dij” duk di atas takhta itu akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka.” Wahyu 7:15.

KSZ1 322.2 “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran. Perasaan tidak layak akan menuntun hati yang lapar dan dahaga akan kebenaran, dan kerinduan yang semacam ini tidak akan dikecewakan. Mereka yang menyediakan tempat di hati mereka bagi Yesus akan memahami kasihNya. Semua yang rindu memakai tabiat Allah akan dipuaskan. Roh Kudus tidak pernah membiarkan tanpa penolong jiwa yang rindu kepada Yesus. Roh Kudus membawa perkara-perkara tentang Kristus dan menunjukkannya kepadanya. Jika mata tetap ditujukan kepada Kristus, pekerjaan Roh tidak akan berhenti sampai jiwa itu serupa dengan peta-Nya. Unsur kasih sejati akan mengembangkan jiwa, memberi kesanggupan yang lebih tinggi, untuk meluaskan pengetahuan tentang perkara-perkara surga, supaya tidak berhenti sampai penuh. “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.”

KSZ1 322.3 Yang menaruh kasihan akan beroleh kasihan, dan yang suci hatinya akan melihat Allah. Setiap pikiran yang kotor menajiskan jiwa, merusak-kan perasaan, akhlak dan membuangkan pengaruh Roh Kudus. Hal itu menudungi pandangan kerohanian, agar manusia tidak dapat memandang Allah. Tuhan mengampuni orang berdosa yang bertobat; tetapi walaupun telah diampuni jiwa itu telah berbekas. Semua percakapan dan pikiran yang tidak pantas harus dihindarkan oleh orang yang mau memperhatikan dengan jelas kebenaran rohani.

KSZ1 323.1 Tetapi perkataan Kristus menutupi lebih luas daripada kebebasan ke-senangan yang tidak suci, lebih daripada kecemaran upacara yang dihin-darkan orang Yahudi. Cinta akan diri sendiri menghalangi kita memandang Allah. Roh orang yang memikirkan diri sendiri menganggap Allah adalah sama seperti dirinya sendiri, mementingkan diri. Sebelum kita membuang sifat itu, kita tidak akan dapat mengerti Dia yang mempunyai kasih. Hanya hati yang tidak mementingkan diri, yang lemah lembut dan mempunyai roh yang tulus, akan melihat Tuhan sebagai “Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya.” Keluaran 34:6.

ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL

11 Januari 2027 | Hari 2
Hari 2: Pasal 31 - KHOTBAH DI ATAS BUKIT

Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 31 - KHOTBAH DI ATAS BUKIT
Halaman 320-323 | Pasal 31, Paragraf 10-18 | KSZ1 320.2-KSZ1 323.1

Ayat Inti:
Matius 5:3
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran:
Minggu 28 membaca Bab 31: Khotbah di Atas Bukit. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.

Baca:
https://www.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-28-hari-2-2027-01-11

Teks Lengkap:

Kadang-kadang kita menyesali akibat dari perbuatan yang jahat yang menimpa kita; tetapi ini bukanlah pertobatan. Penyesalan yang sesung-guhnya akan dosa adalah akibat dari pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus menunjukkan hati yang tiada berterimakasih yang telah meremehkan dan mendukakan Juruselamat, dan membawa kita kepada penyesalan ke kaki salib. Oleh tiap-tiap dosa Yesus dilukai lagi; dan apabila kita memandang kepada-Nya yang telah kita tusuk, kita berdukacita karena dosa-dosa yang membawa kepedihan kepada-Nya. Dukacita yang demikian itu akan membawa kepada penolakan dosa. [KSZ1 320.2]

Dunia mungkin berpendapat bahwa penyesalan ini satu kelemahan; tetapi itulah kekuatan yang mengikat orang yang bertobat kepada yang tidak terbatas dengan mata rantai yang tidak dapat diputuskan. Dinyata-kannya bahwa malaikat-malaikat Allah membawa kepada jiwa kemurahan yang telah hilang oleh kekerasan hati dan pelanggaran. Air mata orang-orang yang menyesal itu hanyalah tetesan hujan yang men-dahului cahaya terang kemuliaan. Dukacita ini memaklumkan satu ke-sukaan yang akan menjadi satu pancaran hidup di dalam jiwa. “Hanya akuilah kesalahanmu, bahwa engkau telah mendurhaka terhadap Tuhan. Aliahmu” “Muka-Ku tidak akan muram terhadap kamu, sebab Aku ini murah hati, demikianlah firman Tuhan ” Yeremia 3:13, 12. “Kepada segala orang Sion yang berdukacita.” Ia telah berjanji memberikan “perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar.” Yesaya 61:3. [KSZ1 320.3]

Dan bagi mereka yang berduka di dalam ujian dan kedukaan terdapatlah penghiburan. Pahitnya kesusahan dan penghinaan adalah lebih baik daripada bermanja-manja dalam dosa. Melalui kesengsaraan Allah menunjukkan kepada kita noda kotor di dalam tabiat kita, dan oleh ke-murahan Allah kita dapat menaklukkan kesalahan kita. Pasal-pasal yang tidak tampak mengenai diri kita sendiri dibukakan kepada kita, dan ujian datang, apakah kita akan menerima teguran dan nasihat Allah. Jika terbawa ke dalam ujian, kita tidak boleh gusar dan bersungut. Kita jangan melawan, atau menggelisahkan diri kita lepas dari pada tangan Kristus. Kita harus merendahkan jiwa di hadapan Allah. Cara-cara Tuhan itu ku-rang jelas bagi mereka yang ingin melihat sesuatu di dalam satu terang yang berkenan bagi dirinya sendiri. Cara-cara itu kelihatan suram dan tanpa kegembiraan kepada sifat kita manusia. Akan tetapi jalan Tuhan adalah jalan kemurahan dan akhirnya adalah keselamatan. Elia tidak me-ngetahui apa yang diperbuatnya apabila di padang belantara ia berkata bahwa ia sudah cukup lama hidup, dan ia berdoa agar ia mati saja. Allah dalam kemurahan-Nya tidak menuruti dia pada waktu itu. Masih ada pekerjaan yang besar yang akan dikerjakan Elia, dan sesudah pekerjaan-nya selesai, ia tidak akan binasa dalam kekecewaan dan kesepian di padang belantara. Bukannya masuk liang lahat, tetapi akan diangkat di dalam kemuliaan dengan pasukan kereta surga, menuju takhta yang mahatinggi. [KSZ1 320.4]

Firman Tuhan terhadap dukacita yang demikian ialah: “Aku telah me-lihat segala jalannya itu, tetapi Aku akan menyembuhkan dan akan menuntun dia dan akan memulihkan dia dengan penghiburan; juga pada bibir orang-orangnya yang berkabung.” “Aku mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan, akan menghibur mereka dan menyukakan mereka sesudah kedukaan mereka.” Yesaya 57:18; Yeremia 31:13. [KSZ1 321.1]

“Berbahagialah orang yang lemah lembut.” Kesukaran yang akan kita hadapi boleh berkurang oleh kelemahlembutan yang tersembunyi di da-lam Kristus. Jika kita memiliki kerendahan hati Tuhan kita, kita akan le-pas dari sifat remeh, penolakan, sakit hati, yang ke dalamnya kita terje-rumus tiap hari, dan tabiat-tabiat itu akan berhenti mendatangkan kege-lapan atas jiwa. Bukti yang tertinggi dari ketinggian budi di dalam Kekristenan ialah pengendalian diri Orang yang ada di bawah kejahatan dan kebengisan gagal memiliki sifat tenang dan roh yang penuh kepercayaan serta merampok Tuhan dari hak-Nya untuk menyatakan di dalamnya kesempurnaan tabiat-Nya. Kerendahan hati itu adalah kekuatan yang memberi kemenangan kepada pengikut-pengikut Kristus; itu adalah tanda hubungan mereka dengan pengadilan surga. [KSZ1 321.2]

“Tuhan itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina.” Mazmur 138:6 Mereka yang menunjukkan kelemahlembutan dan kerendahan hati Krisv tus itulah yang berkenan pada pandangan Allah. Boleh jadi dunia meng^ anggap mereka hina, tetapi pada pemandangan-Nya mereka tinggi nilau nya. Bukan hanya yang bijaksana, yang besar, dermawan, akan menu peroleh paspor ke halaman surga; bukan hanya pekerja yang sibuk yan^ penuh semangat dan tidak kenal berhenti. Bukan; yang miskin rohanj^ yang merindukan kehadiran Kristus, yang lemah lembut, yang mempi^ nyai cita-cita tertinggi melakukan kehendak Allah—mereka ini aka^ memperoleh hak masuk yang berkelimpahan. Mereka akan berada di antara orang yang membasuh jubah mereka dan membuat mereka putih di dalam darah Anak Domba. “Karena itu mereka berdiri di hadapan takht^ Allah dan melayani Dia siang malam di Bait Suci-Nya. Dan Ia yang dij” duk di atas takhta itu akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka.” Wahyu 7:15. [KSZ1 322.1]

“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran. Perasaan tidak layak akan menuntun hati yang lapar dan dahaga akan kebenaran, dan kerinduan yang semacam ini tidak akan dikecewakan. Mereka yang menyediakan tempat di hati mereka bagi Yesus akan memahami kasihNya. Semua yang rindu memakai tabiat Allah akan dipuaskan. Roh Kudus tidak pernah membiarkan tanpa penolong jiwa yang rindu kepada Yesus. Roh Kudus membawa perkara-perkara tentang Kristus dan menunjukkannya kepadanya. Jika mata tetap ditujukan kepada Kristus, pekerjaan Roh tidak akan berhenti sampai jiwa itu serupa dengan peta-Nya. Unsur kasih sejati akan mengembangkan jiwa, memberi kesanggupan yang lebih tinggi, untuk meluaskan pengetahuan tentang perkara-perkara surga, supaya tidak berhenti sampai penuh. “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” [KSZ1 322.2]

Yang menaruh kasihan akan beroleh kasihan, dan yang suci hatinya akan melihat Allah. Setiap pikiran yang kotor menajiskan jiwa, merusak-kan perasaan, akhlak dan membuangkan pengaruh Roh Kudus. Hal itu menudungi pandangan kerohanian, agar manusia tidak dapat memandang Allah. Tuhan mengampuni orang berdosa yang bertobat; tetapi walaupun telah diampuni jiwa itu telah berbekas. Semua percakapan dan pikiran yang tidak pantas harus dihindarkan oleh orang yang mau memperhatikan dengan jelas kebenaran rohani. [KSZ1 322.3]

Tetapi perkataan Kristus menutupi lebih luas daripada kebebasan ke-senangan yang tidak suci, lebih daripada kecemaran upacara yang dihin-darkan orang Yahudi. Cinta akan diri sendiri menghalangi kita memandang Allah. Roh orang yang memikirkan diri sendiri menganggap Allah adalah sama seperti dirinya sendiri, mementingkan diri. Sebelum kita membuang sifat itu, kita tidak akan dapat mengerti Dia yang mempunyai kasih. Hanya hati yang tidak mementingkan diri, yang lemah lembut dan mempunyai roh yang tulus, akan melihat Tuhan sebagai “Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya.” Keluaran 34:6. [KSZ1 323.1]