10 Januari 2027 · Hari 1
Hari 1: Pasal 31 - KHOTBAH DI ATAS BUKIT
Halaman 317-320 | Pasal 31, Paragraf 1-9 | KSZ1 317.1-KSZ1 320.1
Ayat Inti
Matius 5:3
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran
Minggu 28 membaca Bab 31: Khotbah di Atas Bukit. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Doa
Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.
Teks Lengkap
KSZ1 317.1 KRISTUS jarang mengumpulkan m urid-murid-Nya sendiri untuk menerima firman-Nya. Ia tidak memilih pendengar-Nya hanya mereka yang tahu cara hidup. Sudah merupakan tugas-Nya untuk menghampiri orang banyak, yang di dalam kebodohan dan kesalahan. Ia memberikan pelajaran kebenaran-Nya di mana pelajaran itu dapat menerobos Dengertian yang paling gelap sekalipun. Ia sendirilah kebenaran itur berdiri dengan gagah berani dengan tangan yang selalu siap memberi berkat, dan di dalam perkataan amaran, permohonan, dan penghiburan, untuk meninggikan mereka yang datang kepada-Nya.
KSZ1 317.2 Khotbah di atas Bukit, sekalipun dikatakan khusus kepada muridmurid itu, telah diucapkan pada pendengaran orang banyak. Setelah pengurapan rasul-rasul itu, Yesus pergi bersama mereka ke tepi danau. Pagi-pagi sekali orang banyak sudah mulai berkumpul. Di samping pen-dengar yang biasa yang datang dari kota-kota Galilea, terdapat juga banyak orang dari Yudea, dari Yerusalem sendiri; dari Perea, dari Dekapolis, dari Idumea, jauh sebelah selatan Yudea; dan dari Tsur dan Sidon, orang dari kota-kota Fenisia dari pantai Laut Tengah. “Sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya,” mereka “datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka Karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya.” Markus 3:8; Lukas 6:17-19.
KSZ1 318.1 Pantai yang sempit itu tidak dapat menampung orang yang berdiri se-jauh suara-Nya dapat didengar oleh orang-orang yang rindu mendengar-kan Dia, oleh karena itu Yesus menuntun mereka balik ke lereng bukit. Setelah sampai pada tempat yang rata tempat orang banyak dapat ber-kumpul dengan baik, duduklah la di atas rumput, dan murid-murid dan orang banyak pun mengikuti teladan-Nya.
KSZ1 318.2 Tempat bagi murid-murid itu selamanya dekat kepada Yesus. Orang banyak selamanya berjejal -jejal kepada-Nya, tetapi murid-murid itu me-ngerti bahwa mereka tidak disuruh pergi jauh dari hadapan-Nya. Mereka duduk dekat Yesus agar mereka jangan sampai kehilangan sepatah kata pun dari nasihat-Nya. Mereka itu pendengar yang sungguh-sungguh, sa-ngat ingin mengetahui kebenaran yang akan mereka masyhurkan kepada seluruh negeri dan segala zaman.
KSZ1 318.3 Dengan satu perasaan akan sesuatu yang lebih daripada biasa yang da-pat diharapkan, mereka makin dekat kepada Kristus. Mereka yakin bah-wa kerajaan itu tidak lama lagi akan didirikan, dan mulai dari peristiwa pada pagi hari itu mereka merasa bahwa akan ada beberapa pengumuman yang berhubungan dengan itu yang akan dimaklumkan. Orang banyak itu juga berharap demikian, mereka sangat mengharapkan bukti kerinduan mereka itu. Ketika orang banyak duduk di rumput di kaki bukit itu, menunggu perkataan dari Guru Ilahi itu, hati mereka dipenuhi dengan pikiran akan kemuliaan yang akan datang. Di sana terdapat juga ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang sangat mengharapkan saat di masa mendatang bila mereka menguasai bangsa Roma yang dibenci itu, serta menikmati kekayaan dan keindahan kerajaan duniawi. Petani-petani miskin dan penangkap ikan berharap mendengar jaminan bahwa pondok mereka yang buruk, makanan yang sedikit, hidup membanting tulang, dan takut akan kekurangan akan digantikan dengan kemewahan dan hidup yang senang. Gantinya pakaian yang kasar yang mereka pakai pada siang hari, dan selimut yang mereka pakai pada waktu malam, mereka mengharapkan bahwa Kristus akan memberikan pakaian yang indah-in-dah dari penakluk-penakluk mereka itu. Semua digerakkan oleh kebang-gaan bahwa tidak lama lagi orang Israel akan diagungkan di hadapan bangsa-bangsa sebagai umat pilihan Tuhan, dan Yerusalem akan dimu-liakan sebagai pusat dari segenap kerajaan.
KSZ1 319.1 Kristus mengecewakan pengharapan kebesaran duniawi. Di dalam Khotbah di atas Bukit Ia berusaha mengubah haluan pekerjaan yang telah dilakukan pendidikan palsu, dan memberikan kepada pendengar-Nya pe-ngertian yang benar tentang kerajaan-Nya dan sifat-Nya yang benar. Na-mun demikian Ia tidak mengadakan serangan langsung kepada kesalahan orang banyak itu. Ia melihat kemelaratan dunia oleh sebab dosa, tetapi Ia tidak mengemukakan kepada mereka dengan terang-terangan tentang kekejian mereka. Diajar-Nya mereka tentang yang jauh lebih baik dari-pada apa yang mereka telah ketahui. Tanpa memperdebatkan pendapat mereka tentang kerajaan Allah, diceriterakan-Nya syarat-syarat masuk ke dalam kerajaan itu dan membiarkan mereka mengambil kesimpulannya. Kebenaran yang diajarkan-Nya tidak kurang pentingnya bagi kita daripada kepada orang banyak yang mengikuti Dia. Tidak boleh lebih sedikit dari mereka kita perlu mempelajari dasar-dasar prinsip kerajaan Allah.
KSZ1 319.2 Perkataan yang pertama diucapkan Kristus di atas bukit itu adalah kata bahagia. Berbahagialah mereka, kata-Nya, yang merasa dirinya miskin rohani dan yang merasa perlu akan keselamatannya. Injil itu harus dikabarkan kepada orang miskin. Bukannya menyombongkan kerohanian, mereka yang mengaku dirinya kaya dan yang tidak memerlukan pertolongan, melainkan hanya bagi mereka yang rendah hati dan yang menyesal. Satu-satunya pancaran air yang dibuka bagi dosa yakni sebuah pancaran air bagi yang miskin rohani.
KSZ1 319.3 Hati yang sombong berusaha mendapat keselamatan; tetapi baik hak kita ke surga dan kelayakan kita untuk itu hanya boleh didapat di dalam kebenaran Kristus. Tuhan tidak dapat berbuat sesuatu untuk memulihkan manusia sampai manusia itu mengaku kelemahannya, dan mengikis segala kesombongan diri, dan menyerahkan dirinya ke bawah pengawasan Tuhan. Kemudian barulah ia dapat menerima pemberian Allah yang sudah siap untuk dicurahkan. Dari jiwa yang merasakan kebutuhannya, tidak ada yang ditahankan. Ia tidak dihalangi datang kepada Dia di dalam siapa berdiam segala kesempurnaan. “Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.” Yesaya 57:15.
KSZ1 320.1 “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Dengan perkataan ini Kristus bukannya mengajarkan bahwa berdukacita itu mempunyai kuasa untuk membuangkan kesalahan dosa. Ia tidak me-nyetujui kerendahan hati yang pura-pura atau sekehendak hati. Dukacita yang dikatakan-Nya itu bukanlah hati yang diisi kemurungan dan ratap tangis. Sementara kita menyesal akan dosa, kita akan bersuka atas ke-sempatan menjadi anak-anak Allah.
ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL
10 Januari 2027 | Hari 1
Hari 1: Pasal 31 - KHOTBAH DI ATAS BUKIT
Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 31 - KHOTBAH DI ATAS BUKIT
Halaman 317-320 | Pasal 31, Paragraf 1-9 | KSZ1 317.1-KSZ1 320.1
Ayat Inti:
Matius 5:3
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran:
Minggu 28 membaca Bab 31: Khotbah di Atas Bukit. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Baca:
https://www.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-28-hari-1-2027-01-10
Teks Lengkap:
KRISTUS jarang mengumpulkan m urid-murid-Nya sendiri untuk menerima firman-Nya. Ia tidak memilih pendengar-Nya hanya mereka yang tahu cara hidup. Sudah merupakan tugas-Nya untuk menghampiri orang banyak, yang di dalam kebodohan dan kesalahan. Ia memberikan pelajaran kebenaran-Nya di mana pelajaran itu dapat menerobos Dengertian yang paling gelap sekalipun. Ia sendirilah kebenaran itur berdiri dengan gagah berani dengan tangan yang selalu siap memberi berkat, dan di dalam perkataan amaran, permohonan, dan penghiburan, untuk meninggikan mereka yang datang kepada-Nya. [KSZ1 317.1]
Khotbah di atas Bukit, sekalipun dikatakan khusus kepada muridmurid itu, telah diucapkan pada pendengaran orang banyak. Setelah pengurapan rasul-rasul itu, Yesus pergi bersama mereka ke tepi danau. Pagi-pagi sekali orang banyak sudah mulai berkumpul. Di samping pen-dengar yang biasa yang datang dari kota-kota Galilea, terdapat juga banyak orang dari Yudea, dari Yerusalem sendiri; dari Perea, dari Dekapolis, dari Idumea, jauh sebelah selatan Yudea; dan dari Tsur dan Sidon, orang dari kota-kota Fenisia dari pantai Laut Tengah. “Sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya,” mereka “datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka Karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya.” Markus 3:8; Lukas 6:17-19. [KSZ1 317.2]
Pantai yang sempit itu tidak dapat menampung orang yang berdiri se-jauh suara-Nya dapat didengar oleh orang-orang yang rindu mendengar-kan Dia, oleh karena itu Yesus menuntun mereka balik ke lereng bukit. Setelah sampai pada tempat yang rata tempat orang banyak dapat ber-kumpul dengan baik, duduklah la di atas rumput, dan murid-murid dan orang banyak pun mengikuti teladan-Nya. [KSZ1 318.1]
Tempat bagi murid-murid itu selamanya dekat kepada Yesus. Orang banyak selamanya berjejal -jejal kepada-Nya, tetapi murid-murid itu me-ngerti bahwa mereka tidak disuruh pergi jauh dari hadapan-Nya. Mereka duduk dekat Yesus agar mereka jangan sampai kehilangan sepatah kata pun dari nasihat-Nya. Mereka itu pendengar yang sungguh-sungguh, sa-ngat ingin mengetahui kebenaran yang akan mereka masyhurkan kepada seluruh negeri dan segala zaman. [KSZ1 318.2]
Dengan satu perasaan akan sesuatu yang lebih daripada biasa yang da-pat diharapkan, mereka makin dekat kepada Kristus. Mereka yakin bah-wa kerajaan itu tidak lama lagi akan didirikan, dan mulai dari peristiwa pada pagi hari itu mereka merasa bahwa akan ada beberapa pengumuman yang berhubungan dengan itu yang akan dimaklumkan. Orang banyak itu juga berharap demikian, mereka sangat mengharapkan bukti kerinduan mereka itu. Ketika orang banyak duduk di rumput di kaki bukit itu, menunggu perkataan dari Guru Ilahi itu, hati mereka dipenuhi dengan pikiran akan kemuliaan yang akan datang. Di sana terdapat juga ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang sangat mengharapkan saat di masa mendatang bila mereka menguasai bangsa Roma yang dibenci itu, serta menikmati kekayaan dan keindahan kerajaan duniawi. Petani-petani miskin dan penangkap ikan berharap mendengar jaminan bahwa pondok mereka yang buruk, makanan yang sedikit, hidup membanting tulang, dan takut akan kekurangan akan digantikan dengan kemewahan dan hidup yang senang. Gantinya pakaian yang kasar yang mereka pakai pada siang hari, dan selimut yang mereka pakai pada waktu malam, mereka mengharapkan bahwa Kristus akan memberikan pakaian yang indah-in-dah dari penakluk-penakluk mereka itu. Semua digerakkan oleh kebang-gaan bahwa tidak lama lagi orang Israel akan diagungkan di hadapan bangsa-bangsa sebagai umat pilihan Tuhan, dan Yerusalem akan dimu-liakan sebagai pusat dari segenap kerajaan. [KSZ1 318.3]
Kristus mengecewakan pengharapan kebesaran duniawi. Di dalam Khotbah di atas Bukit Ia berusaha mengubah haluan pekerjaan yang telah dilakukan pendidikan palsu, dan memberikan kepada pendengar-Nya pe-ngertian yang benar tentang kerajaan-Nya dan sifat-Nya yang benar. Na-mun demikian Ia tidak mengadakan serangan langsung kepada kesalahan orang banyak itu. Ia melihat kemelaratan dunia oleh sebab dosa, tetapi Ia tidak mengemukakan kepada mereka dengan terang-terangan tentang kekejian mereka. Diajar-Nya mereka tentang yang jauh lebih baik dari-pada apa yang mereka telah ketahui. Tanpa memperdebatkan pendapat mereka tentang kerajaan Allah, diceriterakan-Nya syarat-syarat masuk ke dalam kerajaan itu dan membiarkan mereka mengambil kesimpulannya. Kebenaran yang diajarkan-Nya tidak kurang pentingnya bagi kita daripada kepada orang banyak yang mengikuti Dia. Tidak boleh lebih sedikit dari mereka kita perlu mempelajari dasar-dasar prinsip kerajaan Allah. [KSZ1 319.1]
Perkataan yang pertama diucapkan Kristus di atas bukit itu adalah kata bahagia. Berbahagialah mereka, kata-Nya, yang merasa dirinya miskin rohani dan yang merasa perlu akan keselamatannya. Injil itu harus dikabarkan kepada orang miskin. Bukannya menyombongkan kerohanian, mereka yang mengaku dirinya kaya dan yang tidak memerlukan pertolongan, melainkan hanya bagi mereka yang rendah hati dan yang menyesal. Satu-satunya pancaran air yang dibuka bagi dosa yakni sebuah pancaran air bagi yang miskin rohani. [KSZ1 319.2]
Hati yang sombong berusaha mendapat keselamatan; tetapi baik hak kita ke surga dan kelayakan kita untuk itu hanya boleh didapat di dalam kebenaran Kristus. Tuhan tidak dapat berbuat sesuatu untuk memulihkan manusia sampai manusia itu mengaku kelemahannya, dan mengikis segala kesombongan diri, dan menyerahkan dirinya ke bawah pengawasan Tuhan. Kemudian barulah ia dapat menerima pemberian Allah yang sudah siap untuk dicurahkan. Dari jiwa yang merasakan kebutuhannya, tidak ada yang ditahankan. Ia tidak dihalangi datang kepada Dia di dalam siapa berdiam segala kesempurnaan. “Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.” Yesaya 57:15. [KSZ1 319.3]
“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Dengan perkataan ini Kristus bukannya mengajarkan bahwa berdukacita itu mempunyai kuasa untuk membuangkan kesalahan dosa. Ia tidak me-nyetujui kerendahan hati yang pura-pura atau sekehendak hati. Dukacita yang dikatakan-Nya itu bukanlah hati yang diisi kemurungan dan ratap tangis. Sementara kita menyesal akan dosa, kita akan bersuka atas ke-sempatan menjadi anak-anak Allah. [KSZ1 320.1]