Hari 3: Pasal 29 - HARI SABAT
29 Desember 2026 · Hari 3

Hari 3: Pasal 29 - HARI SABAT

Halaman 300-302 | Pasal 29, Paragraf 9-12 | KSZ1 300.3-KSZ1 302.1

Ayat Inti

Markus 2:27

Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran

Minggu 26 membaca Bab 29: Hari Sabat. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.

Doa

Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.

Teks Lengkap

KSZ1 300.3 Tidak ada peraturan lain yang diberikan kepada orang Yahudi yang membedakan mereka dari pada bangsa-bangsa sekelilingnya sebagaimana yang dinyatakan oleh Sabat. Tuhan merencanakan bahwa pemeli-haraannya harus menyatakan mereka sebagai penyembah Allah. Itu ada-lah tanda perpisahan mereka dari berhala, dan menjadi hubungan mereka dengan Allah. Akan tetapi untuk menyucikan hari Sabat, manusia sendiri harus suci. Melalui iman mereka harus mengambil bagian dalam kebe-naran Kristus. Pada waktu hukum itu diberikan kepada orang Israel “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat,” Allah berfirman kepada mereka juga, “Haruslah kamu menjadi orang-orang kudus bagi-Ku.”-Keluaran 20:8; 22:31. Hanya dengan demikian, maka Sabat itu membedakan Israel sebagai penyembah Allah.

KSZ1 301.1 Pada waktu Israel memisahkan diri dari Tuhan, dan telah gagal menja-dikan kebenaran Kristus milik mereka oleh iman, hari Sabat itu telah kehilangan artinya bagi mereka. Setan berusaha meninggikan dirinya dan menarik manusia jauh dari Kristus, dan bekerja memalsukan Sabat, sebab itu adalah tanda kuasa Kristus. Para pemimpin Yahudi melaksanakan kehendak Setan dengan mengelilingi hari perhentian Tuhan dengan tuntutan pikulan yang berat. Pada zaman Yesus, hari Sabat telah diputarbalikkan sehingga pemeliharaannya mencerminkan sifat memen-tingkan diri sendiri dan sekehendak hati dari tabiat Bapa yang penuh kasih. Rabi-rabi pada hakikatnya mewakili Allah dalam memberikan hu-kum yang tidak mungkin dituruti oleh manusia. Mereka mengajak bangsa itu memandang kepada Allah sebagai pribadi yang bengis, dan berpikir bahwa pemeliharaan Sabat yang dituntut oleh Tuhan, telah menjadikan manusia keras hati dan bengis. Adalah pekerjaan Kristus untuk menjernihkan salah pengertian itu. Sekali pun rabi-rabi mengikut Dia dengan permusuhan yang kejam, Ia tidak pernah memperlihatkan untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan mereka, tetapi menyatakan dengan jelas yakni memelihara Sabat menurut hukum Allah.

KSZ1 301.2 Pada suatu hari Sabat, sementara Yesus dan murid-murid-Nya dari tempat perbaktian, mereka melalui ladang gandum yang sudah masak. Yesus meneruskan pekerjaan-Nya hingga lewat waktu, dan se-mentara melalui ladang itu. murid-murid-Nya mulai memetik gandum, dan makan butir gandum setelah mengupasnya di tangan mereka. Pada hari lain perbuatan demikian tidaklah membangkitkan komentar, karena seorang lalu dari ladang gandum kebun buah-buahan, atau kebun anggur adalah bebas mengambilnya seberapa banyak ia dapat makan. Lihat U-langan 23:24, 25. Tetapi berbuat demikian pada hari Sabat adalah per-buatan yang menajiskan. Bukan saja pemetikan gandum disebut menya-bit, tetapi juga mengupasnya di tangan adalah sebagai pekerjaan mengirik padi, pada pemandangan rabi-rabi itu adalah pelanggaran rangkap dua.

KSZ1 302.1 Mata-mata langsung mengritik kepada Yesus, katanya: “Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.”

ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL

29 Desember 2026 | Hari 3
Hari 3: Pasal 29 - HARI SABAT

Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 29 - HARI SABAT
Halaman 300-302 | Pasal 29, Paragraf 9-12 | KSZ1 300.3-KSZ1 302.1

Ayat Inti:
Markus 2:27
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran:
Minggu 26 membaca Bab 29: Hari Sabat. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.

Baca:
https://www.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-26-hari-3-2026-12-29

Teks Lengkap:

Tidak ada peraturan lain yang diberikan kepada orang Yahudi yang membedakan mereka dari pada bangsa-bangsa sekelilingnya sebagaimana yang dinyatakan oleh Sabat. Tuhan merencanakan bahwa pemeli-haraannya harus menyatakan mereka sebagai penyembah Allah. Itu ada-lah tanda perpisahan mereka dari berhala, dan menjadi hubungan mereka dengan Allah. Akan tetapi untuk menyucikan hari Sabat, manusia sendiri harus suci. Melalui iman mereka harus mengambil bagian dalam kebe-naran Kristus. Pada waktu hukum itu diberikan kepada orang Israel “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat,” Allah berfirman kepada mereka juga, “Haruslah kamu menjadi orang-orang kudus bagi-Ku.”-Keluaran 20:8; 22:31. Hanya dengan demikian, maka Sabat itu membedakan Israel sebagai penyembah Allah. [KSZ1 300.3]

Pada waktu Israel memisahkan diri dari Tuhan, dan telah gagal menja-dikan kebenaran Kristus milik mereka oleh iman, hari Sabat itu telah kehilangan artinya bagi mereka. Setan berusaha meninggikan dirinya dan menarik manusia jauh dari Kristus, dan bekerja memalsukan Sabat, sebab itu adalah tanda kuasa Kristus. Para pemimpin Yahudi melaksanakan kehendak Setan dengan mengelilingi hari perhentian Tuhan dengan tuntutan pikulan yang berat. Pada zaman Yesus, hari Sabat telah diputarbalikkan sehingga pemeliharaannya mencerminkan sifat memen-tingkan diri sendiri dan sekehendak hati dari tabiat Bapa yang penuh kasih. Rabi-rabi pada hakikatnya mewakili Allah dalam memberikan hu-kum yang tidak mungkin dituruti oleh manusia. Mereka mengajak bangsa itu memandang kepada Allah sebagai pribadi yang bengis, dan berpikir bahwa pemeliharaan Sabat yang dituntut oleh Tuhan, telah menjadikan manusia keras hati dan bengis. Adalah pekerjaan Kristus untuk menjernihkan salah pengertian itu. Sekali pun rabi-rabi mengikut Dia dengan permusuhan yang kejam, Ia tidak pernah memperlihatkan untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan mereka, tetapi menyatakan dengan jelas yakni memelihara Sabat menurut hukum Allah. [KSZ1 301.1]

Pada suatu hari Sabat, sementara Yesus dan murid-murid-Nya dari tempat perbaktian, mereka melalui ladang gandum yang sudah masak. Yesus meneruskan pekerjaan-Nya hingga lewat waktu, dan se-mentara melalui ladang itu. murid-murid-Nya mulai memetik gandum, dan makan butir gandum setelah mengupasnya di tangan mereka. Pada hari lain perbuatan demikian tidaklah membangkitkan komentar, karena seorang lalu dari ladang gandum kebun buah-buahan, atau kebun anggur adalah bebas mengambilnya seberapa banyak ia dapat makan. Lihat U-langan 23:24, 25. Tetapi berbuat demikian pada hari Sabat adalah per-buatan yang menajiskan. Bukan saja pemetikan gandum disebut menya-bit, tetapi juga mengupasnya di tangan adalah sebagai pekerjaan mengirik padi, pada pemandangan rabi-rabi itu adalah pelanggaran rangkap dua. [KSZ1 301.2]

Mata-mata langsung mengritik kepada Yesus, katanya: “Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” [KSZ1 302.1]