Hari 5: Pasal 27 - “TUHAN DAPAT MENTAHIRKAN AKU”
17 Desember 2026 · Hari 5

Hari 5: Pasal 27 - “TUHAN DAPAT MENTAHIRKAN AKU”

Halaman 281-282 | Pasal 27, Paragraf 24-28 | KSZ1 281.1-KSZ1 282.1

Ayat Inti

Matius 8:2-3

Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran

Minggu 24 membaca Bab 27: Tuhan Dapat Mentahirkan Aku. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.

Doa

Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.

Teks Lengkap

KSZ1 281.1 Berkali-kali pengusung orang lumpuh ini mencoba menembus orang banyak itu, tetapi sia-sia belaka. Orang sakit ini melihat sekelilingnya dengah suatu perasaan kesengsaraan yang tidak terkatakan. Bila perto-longan yang sudah lama diharapkan telah dekat, bagaimana mungkin me-lenyapkan pengharapannya? Dengan perasaan sedih ia mengusulkan pada orang-orang yang mengusungnya untuk mengulurkan dia dari atap rumah itu, yang datang tepat pada kax; Yesus. Pembicaraan-Nya itu pun terhalanglah. Juruselamat memandang pada wajah yang penuh kesedihan serta pada mata yang memohon kasihan yang diarahkan kepada-Nya. Yesus mengerti maksudnya. Ia telah menarik pada diri-Nya Roh yang bimbang dan ragu-ragu itu. Ketika orang lumpuh ini masih di rumah, Juruselamat telah membawa keyakinan pada angan-angan hatinya. Bila ia bertobat dari segala dosa-dosanya, dan percaya akan kuasa Yesus untuk menyembuhkan dia, anugerah pemberi hidup Juruselamat mulamula memberkati hatinya yang rindu itu. Yesus telah memperhatikan kerlipan percaya pertama yang bertumbuh kepada iman, bahwa Dia adalah satu-satunya penolong bagi orang berdosa, dan melihat imannya bertumbuh oleh usahanya untuk datang menjumpai-Nya.

KSZ1 281.2 Kini, dengan perkataan yang didengar sebagai alunan musik pada teli-nganya, Juruselamat berkata: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.”

KSZ1 281.3 Beban putus asa terangkat dari jiwa orang yang sakit ini; damai keampunan bertakhta di atas rohnya dan bersinar pada wajahnya. Penyakit-nya hilang, dan seluruh tubuhnya diubahkan. Orang lumpuh yang tidak berdaya telah disembuhkan; seorang berdosa yang bersalah telah diam-puni!

KSZ1 281.4 Di dalam iman yang sederhana itu dia menerima perkataan Yesus se-bagai suatu luapan berkat hidup baru. Ia tidak memajukan permohonan lebih lanjut melainkan berdiam tidak berkata apa-apa karena kegembiraannya. Terang surga menyinari wajahnya dan orang banyak pun ke-heranan melihat peristiwa ini.

KSZ1 282.1 Rabi-rabi telah menunggu dengan kerinduan untuk melihat apakah tindakan Kristus terhadap peristiwa ini. Mereka teringat bagai-mana orang ini telah datang memohon pertolongan pada mereka dan telah menolak orang-orang yang berharap dan memohon untuk dikasihani. Tidak puas dengan hal ini, mereka umumkan bahwa orang ini menderita karena mendapat kutuk dari Allah atas dosa-dosanya. Perkara ini menjadi segar pada pikiran mereka bila mereka melihat bahwa orang sakit itu kini berada di hadapan mereka. Mereka memperhatikan semua orang yang menyaksikan pandangan ini, dan mereka merasa sangat takut akan kehilangan pengaruh mereka pada orang banyak itu.

ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL

17 Desember 2026 | Hari 5
Hari 5: Pasal 27 - “TUHAN DAPAT MENTAHIRKAN AKU”

Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 27 - “TUHAN DAPAT MENTAHIRKAN AKU”
Halaman 281-282 | Pasal 27, Paragraf 24-28 | KSZ1 281.1-KSZ1 282.1

Ayat Inti:
Matius 8:2-3
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran:
Minggu 24 membaca Bab 27: Tuhan Dapat Mentahirkan Aku. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.

Baca:
https://www.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-24-hari-5-2026-12-17

Teks Lengkap:

Berkali-kali pengusung orang lumpuh ini mencoba menembus orang banyak itu, tetapi sia-sia belaka. Orang sakit ini melihat sekelilingnya dengah suatu perasaan kesengsaraan yang tidak terkatakan. Bila perto-longan yang sudah lama diharapkan telah dekat, bagaimana mungkin me-lenyapkan pengharapannya? Dengan perasaan sedih ia mengusulkan pada orang-orang yang mengusungnya untuk mengulurkan dia dari atap rumah itu, yang datang tepat pada kax; Yesus. Pembicaraan-Nya itu pun terhalanglah. Juruselamat memandang pada wajah yang penuh kesedihan serta pada mata yang memohon kasihan yang diarahkan kepada-Nya. Yesus mengerti maksudnya. Ia telah menarik pada diri-Nya Roh yang bimbang dan ragu-ragu itu. Ketika orang lumpuh ini masih di rumah, Juruselamat telah membawa keyakinan pada angan-angan hatinya. Bila ia bertobat dari segala dosa-dosanya, dan percaya akan kuasa Yesus untuk menyembuhkan dia, anugerah pemberi hidup Juruselamat mulamula memberkati hatinya yang rindu itu. Yesus telah memperhatikan kerlipan percaya pertama yang bertumbuh kepada iman, bahwa Dia adalah satu-satunya penolong bagi orang berdosa, dan melihat imannya bertumbuh oleh usahanya untuk datang menjumpai-Nya. [KSZ1 281.1]

Kini, dengan perkataan yang didengar sebagai alunan musik pada teli-nganya, Juruselamat berkata: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” [KSZ1 281.2]

Beban putus asa terangkat dari jiwa orang yang sakit ini; damai keampunan bertakhta di atas rohnya dan bersinar pada wajahnya. Penyakit-nya hilang, dan seluruh tubuhnya diubahkan. Orang lumpuh yang tidak berdaya telah disembuhkan; seorang berdosa yang bersalah telah diam-puni! [KSZ1 281.3]

Di dalam iman yang sederhana itu dia menerima perkataan Yesus se-bagai suatu luapan berkat hidup baru. Ia tidak memajukan permohonan lebih lanjut melainkan berdiam tidak berkata apa-apa karena kegembiraannya. Terang surga menyinari wajahnya dan orang banyak pun ke-heranan melihat peristiwa ini. [KSZ1 281.4]

Rabi-rabi telah menunggu dengan kerinduan untuk melihat apakah tindakan Kristus terhadap peristiwa ini. Mereka teringat bagai-mana orang ini telah datang memohon pertolongan pada mereka dan telah menolak orang-orang yang berharap dan memohon untuk dikasihani. Tidak puas dengan hal ini, mereka umumkan bahwa orang ini menderita karena mendapat kutuk dari Allah atas dosa-dosanya. Perkara ini menjadi segar pada pikiran mereka bila mereka melihat bahwa orang sakit itu kini berada di hadapan mereka. Mereka memperhatikan semua orang yang menyaksikan pandangan ini, dan mereka merasa sangat takut akan kehilangan pengaruh mereka pada orang banyak itu. [KSZ1 282.1]