28 November 2026 · Hari 7
Hari 7: Pasal 24 - “BUKANKAH IA INI ANAK TUKANG KAYU ITU?”
Halaman 251-251 | Pasal 24, Paragraf 27-30 | KSZ1 251.1-KSZ1 251.4
Ayat Inti
Matius 13:55
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran
Minggu 21 membaca Bab 24: Bukankah ini Anak tukang kayu?. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Doa
Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.
Teks Lengkap
KSZ1 251.1 Para pemimpin Yahudi telah dipenuhi dengan kesombongan rohani. Keinginan mereka bagi kemuliaan diri ternyata hingga di dalam upacara Bait Suci. Mereka mencintai kursi yang tertinggi di dalam Bait Suci. Mereka sangat senang dengan hormat yang diberikan oleh orang banyak di pasar-pasar, dan merasa bangga dengan gelar mereka yang disebut-sebut oleh orang banyak. Pada saat kealiman yang benar berkurang, mereka menjadi lebih cemburu terhadap tradisi-tradisi dan upacara-upacara mereka.
KSZ1 251.2 Oleh karena pengertian mereka telah digelapkan oleh roh cinta diri yang faifatik, mereka tidak lagi mengimbangi kuasa perkataan Kristus yang meyakinkan itu dengan kerendahan kehidupan-Nya. Mereka tidak menghargai akan fakta bahwa kebesaran yang benar tidak dapat ditunjukkan oleh perkara-perkara di luar. Kekurangan manusia itu ternyata seluruhnya tidak sesuai dengan pengakuan-Nya sebagai Mesias. Mereka bertanya, Jikalau Ia benar sebagaimana pengakuan-Nya, mengapakah Ia begitu sederhana? Jika Ia merasa puas tanpa bala tentara, apakah akan terjadi dengan kerajaannya? Bagaimana dapat kuasa dan kemuliaan yang begitu lama diharapkan membawa bangsa-bangsa sebagai rakyat bagi kota orang Yahudi? Bukankah imam telah mengajarkan bahwa bangsa Israel yang akan memegang pemerintahan di seluruh dunia? Dan mungkinkah bahwa guru-guru agama itu bersalah?
KSZ1 251.3 Tetapi bukanlah karena tidak ada penarikan luar dalam kehidupan Yesus yang membawa bangsa Yahudi menolak Yesus. Ia adalah perwujudan kesucian, sedangkan mereka tidak suci. Ia tinggal di antara manusia sebagai suatu teladan kesucian yang tidak bercacat. KehidupanNya yang tidak bernoda itu memancarkan terang pada hati mereka itu. Kesungguh-sungguhan hati-Nya menyatakan ketidaksungguhan mereka. Hal ini hanyalah membuka kedok kesucian yang berpura-pura dan menyatakan kejahatan mereka sampai ke akar-akarnya. Terang inilah yang tidak diterima.
KSZ1 251.4 Jikalau Kristus menaruh perhatian pada orang-orang Farisi, dan meninggikan ajaran dan peribadatan mereka, tentu mereka telah menyambut Dia dengan kesukaan. Tetapi bila Ia berbicara tentang kerajaan surga sebagai suatu hadiah anugerah bagi seluruh manusia, Ia sedang mengemukakan suatu ajaran agama yang tidak disetujui sama sekali oleh mereka itu. Teladan dan ajaran mereka itu sendiri tidak pernah menjadikan pelajaran terhadap Allah itu berkenan. Bila melihat Yesus memberikan perhatian pada seorang yang mereka benci dan tolak, hal itu membangkitkan hawa nafsu kesombongan hati mereka. Walaupun mereka bangga karena di bawah “Singa dari suku Yahuda” Wahyu 5:5 Israel harus ditinggikan melebihi seluruh bangsa, tetapi mereka lebih sanggup menerima kekecewaan cita-cita yang telah gagal daripada mereka menerima pukulan dalam teguran Kristus bagi dosa mereka itu, yang mereka rasakan dari hadirat kesucian-Nya.
ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL
28 November 2026 | Hari 7
Hari 7: Pasal 24 - “BUKANKAH IA INI ANAK TUKANG KAYU ITU?”
Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 24 - “BUKANKAH IA INI ANAK TUKANG KAYU ITU?”
Halaman 251-251 | Pasal 24, Paragraf 27-30 | KSZ1 251.1-KSZ1 251.4
Ayat Inti:
Matius 13:55
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran:
Minggu 21 membaca Bab 24: Bukankah ini Anak tukang kayu?. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Baca:
https://www.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-21-hari-7-2026-11-28
Teks Lengkap:
Para pemimpin Yahudi telah dipenuhi dengan kesombongan rohani. Keinginan mereka bagi kemuliaan diri ternyata hingga di dalam upacara Bait Suci. Mereka mencintai kursi yang tertinggi di dalam Bait Suci. Mereka sangat senang dengan hormat yang diberikan oleh orang banyak di pasar-pasar, dan merasa bangga dengan gelar mereka yang disebut-sebut oleh orang banyak. Pada saat kealiman yang benar berkurang, mereka menjadi lebih cemburu terhadap tradisi-tradisi dan upacara-upacara mereka. [KSZ1 251.1]
Oleh karena pengertian mereka telah digelapkan oleh roh cinta diri yang faifatik, mereka tidak lagi mengimbangi kuasa perkataan Kristus yang meyakinkan itu dengan kerendahan kehidupan-Nya. Mereka tidak menghargai akan fakta bahwa kebesaran yang benar tidak dapat ditunjukkan oleh perkara-perkara di luar. Kekurangan manusia itu ternyata seluruhnya tidak sesuai dengan pengakuan-Nya sebagai Mesias. Mereka bertanya, Jikalau Ia benar sebagaimana pengakuan-Nya, mengapakah Ia begitu sederhana? Jika Ia merasa puas tanpa bala tentara, apakah akan terjadi dengan kerajaannya? Bagaimana dapat kuasa dan kemuliaan yang begitu lama diharapkan membawa bangsa-bangsa sebagai rakyat bagi kota orang Yahudi? Bukankah imam telah mengajarkan bahwa bangsa Israel yang akan memegang pemerintahan di seluruh dunia? Dan mungkinkah bahwa guru-guru agama itu bersalah? [KSZ1 251.2]
Tetapi bukanlah karena tidak ada penarikan luar dalam kehidupan Yesus yang membawa bangsa Yahudi menolak Yesus. Ia adalah perwujudan kesucian, sedangkan mereka tidak suci. Ia tinggal di antara manusia sebagai suatu teladan kesucian yang tidak bercacat. KehidupanNya yang tidak bernoda itu memancarkan terang pada hati mereka itu. Kesungguh-sungguhan hati-Nya menyatakan ketidaksungguhan mereka. Hal ini hanyalah membuka kedok kesucian yang berpura-pura dan menyatakan kejahatan mereka sampai ke akar-akarnya. Terang inilah yang tidak diterima. [KSZ1 251.3]
Jikalau Kristus menaruh perhatian pada orang-orang Farisi, dan meninggikan ajaran dan peribadatan mereka, tentu mereka telah menyambut Dia dengan kesukaan. Tetapi bila Ia berbicara tentang kerajaan surga sebagai suatu hadiah anugerah bagi seluruh manusia, Ia sedang mengemukakan suatu ajaran agama yang tidak disetujui sama sekali oleh mereka itu. Teladan dan ajaran mereka itu sendiri tidak pernah menjadikan pelajaran terhadap Allah itu berkenan. Bila melihat Yesus memberikan perhatian pada seorang yang mereka benci dan tolak, hal itu membangkitkan hawa nafsu kesombongan hati mereka. Walaupun mereka bangga karena di bawah “Singa dari suku Yahuda” Wahyu 5:5 Israel harus ditinggikan melebihi seluruh bangsa, tetapi mereka lebih sanggup menerima kekecewaan cita-cita yang telah gagal daripada mereka menerima pukulan dalam teguran Kristus bagi dosa mereka itu, yang mereka rasakan dari hadirat kesucian-Nya. [KSZ1 251.4]