Hari 4: Pasal 21 - BETESDA DAN SANHEDRIN
11 November 2026 · Hari 4

Hari 4: Pasal 21 - BETESDA DAN SANHEDRIN

Halaman 212-215 | Pasal 21, Paragraf 22-28 | KSZ1 212.3-KSZ1 215.1

Ayat Inti

Yohanes 5:8

Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran

Minggu 19 membaca Bab 21: Betesda dan Sanhedrin. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.

Doa

Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.

Teks Lengkap

KSZ1 212.3 Jika hal-hal ini teijadi, maka manusia tidak akan mendapat hasil bumi dan berkat-berkat yang diingini. Alam harus melanjutkan tugasnya yang tidak berubah-ubah itu. Allah tidak dapat sedikit pun menghentikan tangan-Nya, kalau tidak manusia itu akan pingsan dan mati. Maka manusia pun mempunyai suatu pekerjaan yang patut dilakukan pada hari ini. Kebutuhan hidup harus diteruskan, orang sakit patut dirawat, keperluan yang berkekurangan harus disediakan. Ia dianggap bersalah jika tidak menolong orang-orang yang menderita pada hari Sabat. Hari perhentian Allah yang suci dijadikan bagi manusia, dan perbuatan kebajikan adalah sesuai dengan maksud hari itu. Allah tidak mengingini makhluk kejadian-Nya menderita kesakitan yang dapat disembuhkan pada hari Sabat ataupun pada hari yang lain.

KSZ1 213.1 Tuntutan Allah bagi hari Sabat adalah lebih besar daripada hari-hari yang lain. Umat-Nya harus meninggalkan pekerjaan yang biasa, dan menggunakan waktu itu untuk merenung dan berbakti. Mereka memohon kebaikan lebih daripada-Nya pada hari Sabat dibanding hari-hari yang lain. Mereka menuntut perhatian-Nya yang istimewa. Mereka merindukan berkat-berkat-Nya yang istimewa. Allah tidaklah menunggu hingga Sabat itu lalu, barulah la mengabulkan permohonan ini. Pekerjaan surga tidak pernah berhenti, dan manusia tidak patut berhenti dari pekerjaan berbuat baik. Sabat itu bukanlah dimaksudkan untuk menjadi suatu waktu untuk pekerjaan yang tidak berguna. Taurat melarang pekerjaan badani pada hari perhentian Tuhan; pekerjaan mencari nafkah haruslah berhenti; tidak ada pekerjaan bagi kesenangan, atau keuntungan dunia ini yang diizinkan pada hari itu, tetapi sebagaimana Allah telah berhenti dari pekerjaan-Nya menjadikan, dan berhenti pada hari Sabat dan memberkati hari itu, begitu pula manusia harus meninggalkan pekerjaan hidup setiap hari, dan mengabdikan tiap jam yang suci itu untuk perhentian yang sehat, berbakti, dan melakukan perbuatan yang suci. Pekerjaan Kristus menyembuhkan orang sakit adalah sesuai dengan Taurat. Karena perbuatan itu adalah menghormati akan hari Sabat.

KSZ1 213.2 Yesus mengaku hak-hak yang sama dengan Allah di dalam melakukan suatu pekerjaan yang sama sucinya, dan tabiat yang sama yang menghu-bungkan Dia dengan Bapa-Nya yang di dalam surga. Tetapi orang-orang Farisi masih juga marah. Karena menurut pengertian mereka Ia bukan saja melanggar Taurat, tetapi juga menyebut Allah “adalah Bapa-Nya.” Yohanes 5:18, yang menyatakan bahwa Ia sama dengan Allah.

KSZ1 213.3 Seluruh bangsa Yahudi menyebut Allah itu Bapa mereka, oleh sebab itu mereka tidak menjadi begitu marah, jika Kristus telah kemukakan diri-Nya dalam hubungan yang sama dengan Allah. Tetapi mereka menuduh Dia telah menghujat, menunjukkan bahwa mereka memahami Dia mengadakan pengakuan ini dalam pengertian yang tertinggi.

KSZ1 214.1 Musuh-musuh Kristus ini tidak mempunyai jawaban untuk menghadapi kebenaran yang telah dikemukakan-Nya, yang telah menyentuh hati mereka. Mereka hanya dapat menyebut adat istiadat dan tradisi mereka dan hal ini nampaknya lemah dan mati bila dibandingkan dengan alasanalasan yang Yesus tarik dari firman Allah dan peredaran alam yang tetap. Jikalau rabi-rabi itu telah mempunyai perasaan untuk menerima terang, maka mereka akan sadar bahwa Yesus telah berkata tentang kebenaran. Akan tetapi mereka telah menghindari hal-hal yang telah dikemukakanNya mengenai Sabat, dan berusaha untuk menimbulkan amarah untuk menentang Dia karena Ia telah mengakui diri-Nya sama dengan Allah. Penghuiu-penghulu itu menjadi sangat marah. Kalau mereka tidak takut akan orang banyak, maka imam-imam dan rabi-rabi itu telah membunuh Yesus di tempat dan di saat itu juga. Tetapi perasaan yang mengagungagungkan perbuatan baik-Nya dari orang banyak itu sangatlah besar. Banyak yang mengenal Yesus sebagai seorang sahabat yang telah menyembuhkan penyakit mereka dan memberi penghiburan dalam kesusahan mereka, sebab itu mereka membenarkan penyembuhan-Nya terhadap orang yang menderita di kolam Betesda itu. Oleh karena itu terpaksa pemimpin-pemimpin Yahudi menahan kebencian mereka.

KSZ1 214.2 Yesus menolak tuduhan mereka bahwa Ia menghujat. Kuasa-Ku, kataNya, untuk melakukan pekerjaan yang kamu tuduh itu, adalah menunjukkan bahwa Akulah Anak Allah, satu dengan Dia di dalam keadaan, kehendak, dan maksud. Dalam pekerjaan-Nya menjadikan dan memelihara saya bekerjasama dengan Allah. “Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya.” Imam-imam dan rabi-rabi sedang memperdaya atau mempersulit Anak Allah kepada pekeijaan yang oleh-Nya Ia telah diutus ke dalam dunia ini. Oleh dosa-dosa mereka, maka mereka telah menceraikan diri dari Allah dan dalam kesombongan, mereka sedang berusaha untuk bertindak sendiri tanpa Dia. Mereka merasa bahwa diri mereka sudah cukup dalam segala sesuatu dan tidak memerlukan lagi suatu hikmat yang lebih tinggi untuk memimpin perbuatan mereka. Tetapi Anak Allah telah menyerahkan diri-Nya kepada kehendak Allah dan bergantung atas kuasa-Nya. Kristus sangat mengosongkan diri-Nya sehingga Ia tidak mengadakan rencana lain bagi diri-Nya. Ia menerima rencana Allah bagi-Nya dan tiap hari Bapa menyatakan rencana-Nya. Oleh sebab itu, patutlah kita bergantung kepada Allah, agar hidup kita boleh menjadi tempat pelaksanaan yang sederhana bagi kehendak-Nya.

KSZ1 215.1 Ketika Musa hendak membangun sebuah Bait Suci sebagai tempat bagi kediaman Allah, ia telah diperintah untuk melakukan segala perkara menurut teladan yang telah ditunjukkan kepadanya di atas gunung. Musa dengan semangat mengerjakan pekerjaan Allah; orang-orang yang paling bertalenta dan yang sangat cakap telah dipilih untuk menjalankan rencananya. Tetapi ia tidak boleh membuat sebuah lonceng, atau buah delima, utas tali, rambu-rambu tirai atau bejana apa pun dalam Bait Suci itu, selain dari teladan yang telah ditunjukkan kepadanya. Allah telah memanggil dia ke atas gunung, dan menunjukkan kepadanya perkaraperkara surga. Tuhan telah membungkus dia dengan kemuliaan-Nya sendiri, agar ia dapat melihat teladan itu dan menurut teladan itulah segala sesuatu telah diperbuatnya. Jadi kepada bani Israel yang diingini-Nya untuk dijadikan tempat kediaman-Nya, Ia telah menyatakan keluhuran tabiat-Nya yang mulia. Contoh itu ditunjukkan kepada mereka di atas gunung di saat sepuluh hukum itu diberikan di Gunung Sinai, dan ketika Tuhan lalu di hadapan Musa dan berseru: “Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang meng-ampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa.” Keluaran 34:6, 7.

ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL

11 November 2026 | Hari 4
Hari 4: Pasal 21 - BETESDA DAN SANHEDRIN

Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 21 - BETESDA DAN SANHEDRIN
Halaman 212-215 | Pasal 21, Paragraf 22-28 | KSZ1 212.3-KSZ1 215.1

Ayat Inti:
Yohanes 5:8
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran:
Minggu 19 membaca Bab 21: Betesda dan Sanhedrin. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.

Baca:
https://www.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-19-hari-4-2026-11-11

Teks Lengkap:

Jika hal-hal ini teijadi, maka manusia tidak akan mendapat hasil bumi dan berkat-berkat yang diingini. Alam harus melanjutkan tugasnya yang tidak berubah-ubah itu. Allah tidak dapat sedikit pun menghentikan tangan-Nya, kalau tidak manusia itu akan pingsan dan mati. Maka manusia pun mempunyai suatu pekerjaan yang patut dilakukan pada hari ini. Kebutuhan hidup harus diteruskan, orang sakit patut dirawat, keperluan yang berkekurangan harus disediakan. Ia dianggap bersalah jika tidak menolong orang-orang yang menderita pada hari Sabat. Hari perhentian Allah yang suci dijadikan bagi manusia, dan perbuatan kebajikan adalah sesuai dengan maksud hari itu. Allah tidak mengingini makhluk kejadian-Nya menderita kesakitan yang dapat disembuhkan pada hari Sabat ataupun pada hari yang lain. [KSZ1 212.3]

Tuntutan Allah bagi hari Sabat adalah lebih besar daripada hari-hari yang lain. Umat-Nya harus meninggalkan pekerjaan yang biasa, dan menggunakan waktu itu untuk merenung dan berbakti. Mereka memohon kebaikan lebih daripada-Nya pada hari Sabat dibanding hari-hari yang lain. Mereka menuntut perhatian-Nya yang istimewa. Mereka merindukan berkat-berkat-Nya yang istimewa. Allah tidaklah menunggu hingga Sabat itu lalu, barulah la mengabulkan permohonan ini. Pekerjaan surga tidak pernah berhenti, dan manusia tidak patut berhenti dari pekerjaan berbuat baik. Sabat itu bukanlah dimaksudkan untuk menjadi suatu waktu untuk pekerjaan yang tidak berguna. Taurat melarang pekerjaan badani pada hari perhentian Tuhan; pekerjaan mencari nafkah haruslah berhenti; tidak ada pekerjaan bagi kesenangan, atau keuntungan dunia ini yang diizinkan pada hari itu, tetapi sebagaimana Allah telah berhenti dari pekerjaan-Nya menjadikan, dan berhenti pada hari Sabat dan memberkati hari itu, begitu pula manusia harus meninggalkan pekerjaan hidup setiap hari, dan mengabdikan tiap jam yang suci itu untuk perhentian yang sehat, berbakti, dan melakukan perbuatan yang suci. Pekerjaan Kristus menyembuhkan orang sakit adalah sesuai dengan Taurat. Karena perbuatan itu adalah menghormati akan hari Sabat. [KSZ1 213.1]

Yesus mengaku hak-hak yang sama dengan Allah di dalam melakukan suatu pekerjaan yang sama sucinya, dan tabiat yang sama yang menghu-bungkan Dia dengan Bapa-Nya yang di dalam surga. Tetapi orang-orang Farisi masih juga marah. Karena menurut pengertian mereka Ia bukan saja melanggar Taurat, tetapi juga menyebut Allah “adalah Bapa-Nya.” Yohanes 5:18, yang menyatakan bahwa Ia sama dengan Allah. [KSZ1 213.2]

Seluruh bangsa Yahudi menyebut Allah itu Bapa mereka, oleh sebab itu mereka tidak menjadi begitu marah, jika Kristus telah kemukakan diri-Nya dalam hubungan yang sama dengan Allah. Tetapi mereka menuduh Dia telah menghujat, menunjukkan bahwa mereka memahami Dia mengadakan pengakuan ini dalam pengertian yang tertinggi. [KSZ1 213.3]

Musuh-musuh Kristus ini tidak mempunyai jawaban untuk menghadapi kebenaran yang telah dikemukakan-Nya, yang telah menyentuh hati mereka. Mereka hanya dapat menyebut adat istiadat dan tradisi mereka dan hal ini nampaknya lemah dan mati bila dibandingkan dengan alasanalasan yang Yesus tarik dari firman Allah dan peredaran alam yang tetap. Jikalau rabi-rabi itu telah mempunyai perasaan untuk menerima terang, maka mereka akan sadar bahwa Yesus telah berkata tentang kebenaran. Akan tetapi mereka telah menghindari hal-hal yang telah dikemukakanNya mengenai Sabat, dan berusaha untuk menimbulkan amarah untuk menentang Dia karena Ia telah mengakui diri-Nya sama dengan Allah. Penghuiu-penghulu itu menjadi sangat marah. Kalau mereka tidak takut akan orang banyak, maka imam-imam dan rabi-rabi itu telah membunuh Yesus di tempat dan di saat itu juga. Tetapi perasaan yang mengagungagungkan perbuatan baik-Nya dari orang banyak itu sangatlah besar. Banyak yang mengenal Yesus sebagai seorang sahabat yang telah menyembuhkan penyakit mereka dan memberi penghiburan dalam kesusahan mereka, sebab itu mereka membenarkan penyembuhan-Nya terhadap orang yang menderita di kolam Betesda itu. Oleh karena itu terpaksa pemimpin-pemimpin Yahudi menahan kebencian mereka. [KSZ1 214.1]

Yesus menolak tuduhan mereka bahwa Ia menghujat. Kuasa-Ku, kataNya, untuk melakukan pekerjaan yang kamu tuduh itu, adalah menunjukkan bahwa Akulah Anak Allah, satu dengan Dia di dalam keadaan, kehendak, dan maksud. Dalam pekerjaan-Nya menjadikan dan memelihara saya bekerjasama dengan Allah. “Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya.” Imam-imam dan rabi-rabi sedang memperdaya atau mempersulit Anak Allah kepada pekeijaan yang oleh-Nya Ia telah diutus ke dalam dunia ini. Oleh dosa-dosa mereka, maka mereka telah menceraikan diri dari Allah dan dalam kesombongan, mereka sedang berusaha untuk bertindak sendiri tanpa Dia. Mereka merasa bahwa diri mereka sudah cukup dalam segala sesuatu dan tidak memerlukan lagi suatu hikmat yang lebih tinggi untuk memimpin perbuatan mereka. Tetapi Anak Allah telah menyerahkan diri-Nya kepada kehendak Allah dan bergantung atas kuasa-Nya. Kristus sangat mengosongkan diri-Nya sehingga Ia tidak mengadakan rencana lain bagi diri-Nya. Ia menerima rencana Allah bagi-Nya dan tiap hari Bapa menyatakan rencana-Nya. Oleh sebab itu, patutlah kita bergantung kepada Allah, agar hidup kita boleh menjadi tempat pelaksanaan yang sederhana bagi kehendak-Nya. [KSZ1 214.2]

Ketika Musa hendak membangun sebuah Bait Suci sebagai tempat bagi kediaman Allah, ia telah diperintah untuk melakukan segala perkara menurut teladan yang telah ditunjukkan kepadanya di atas gunung. Musa dengan semangat mengerjakan pekerjaan Allah; orang-orang yang paling bertalenta dan yang sangat cakap telah dipilih untuk menjalankan rencananya. Tetapi ia tidak boleh membuat sebuah lonceng, atau buah delima, utas tali, rambu-rambu tirai atau bejana apa pun dalam Bait Suci itu, selain dari teladan yang telah ditunjukkan kepadanya. Allah telah memanggil dia ke atas gunung, dan menunjukkan kepadanya perkaraperkara surga. Tuhan telah membungkus dia dengan kemuliaan-Nya sendiri, agar ia dapat melihat teladan itu dan menurut teladan itulah segala sesuatu telah diperbuatnya. Jadi kepada bani Israel yang diingini-Nya untuk dijadikan tempat kediaman-Nya, Ia telah menyatakan keluhuran tabiat-Nya yang mulia. Contoh itu ditunjukkan kepada mereka di atas gunung di saat sepuluh hukum itu diberikan di Gunung Sinai, dan ketika Tuhan lalu di hadapan Musa dan berseru: “Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang meng-ampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa.” Keluaran 34:6, 7. [KSZ1 215.1]