Hari 1: Pasal 21 - BETESDA DAN SANHEDRIN
8 November 2026 · Hari 1

Hari 1: Pasal 21 - BETESDA DAN SANHEDRIN

Halaman 205-207 | Pasal 21, Paragraf 1-7 | KSZ1 205.1-KSZ1 207.2

Ayat Inti

Yohanes 5:8

Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran

Minggu 19 membaca Bab 21: Betesda dan Sanhedrin. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.

Doa

Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.

Teks Lengkap

KSZ1 205.1 DI Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang kusta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air itu.”

KSZ1 205.2 Pada saat-saat tertentu air kolam ini bergoncang, dan menurut kepercayaan umum air itu bergoncang oleh suatu kuasa gaib, dan siapa yang pertama-tama meloncat ke dalamnya selagi air kolam itu bergoncang, ia akan disembuhkan dari penyakit apa saja yang dideritanya. Beratus-ratus penderita mengunjungi tempat itu; tetapi karena begitu banyak orang yang berebutan bila air itu bergoncang maka orang-orang yang agak lemah sering terpijak oleh orang-orang yang lebih kuat. Banyak yang tidak dapat menghampiri kolam itu. Banyak pula yang telah berhasil tiba pada kolam itu tetapi telah meninggal dunia di tepinya. Banyak tempat berteduh telah dibangun di sekeliling tempat itu, agar orang-orang sakit itu dapat terlindung dari panas pada siang dan dingin pada malam. Ada pula yang menunggu sepanjang malam pada serambi-serambi itu, merayap ke tepi kolam itu dari hari ke hari tetapi sia-sia belaka usaha mereka itu.

KSZ1 205.3 Yesus kini berada di Yerusalem. Setelah Ia menyendiri dan minta doa sendirian Ia datang ke kolam itu. Ia melihat para penderita yang malang sedang memandang dengan penuh perhatian pada kolam itu karena pada sangka mereka hanya inilah satu-satunya kesempatan bagi mereka untuk sembuh. Ia rindu menyatakan kuasa-Nya dan menyem-buhkan setiap penderita ini. Tetapi hari itu adalah hari Sabat. Orang ba-nyak sedang menuju ke Bait Suci untuk berbakti dan Ia mengetahui bahwa penyembuhan semacam itu akan menimbulkan prasangka orang Yahudi sehingga dapat mengakhiri pekerjaan-Nya dengan tiba-tiba.

KSZ1 206.1 Tetapi Juruselamat melihat seorang yang sangat menderita, Ia adalah seorang yang telah menjadi lumpuh tiga puluh delapan tahun lamanya. Penyakitnya sebenarnya sebagian besar disebabkan oleh dosanya sendiri, dan dianggap sebagai hukuman dari Allah. Karena sendirian dan tidak ada sanak saudara, serta merasa bahwa pintu kasihan Allah telah tertutup baginya, si penderita itu hidup merana bertahun-tahun lamanya. Pada saat ia mengharap bahwa air akan bergoncang, mereka yang merasa kasihan atas dirinya yang tidak berdaya itu menolong mengangkat dia ke serambi kolam itu. Tetapi pada saat air itu bergoncang tidak seorang pun yang menolong memasukkan dia ke dalam kolam itu. Ia telah melihat air itu bergoncang, tetapi malang benar, ia tidak dapat beringsut melewati tepi kolam itu. Orang-orang lain yang lebih kuat terjun mendahului dia. Ia tidak dapat berlomba dengan orang banyak yang bersifat mementingkan diri yang berebutan terjun ke kolam. Usahanya yang tekun untuk mencapai maksudnya, serta kecemasan dan kekecewaannya yang terusmenerus, dengan cepat menghabiskan tenaganya yang masih tersisa.

KSZ1 206.2 Orang sakit itu sedang berbaring di atas tikarnya, dan sering mengang-kat kepalanya melihat ke kolam itu; pada saat itulah dengan wajah yang penuh belas kasihan seorang membungkuk di hadapannya, dan perkataan, “Maukah engkau sembuh?” menarik perhatiannya. Harapan timbul dalam hatinya. Ia merasa bahwa rupanya ia akan mendapat pertolongan. Tetapi seri wajahnya yang penuh harapan itu tiba-tiba menjadi suram . Ia teringat betapa seringnya ia telah berusaha mencapai kolam itu dan kini hanya tinggal sedikit harapan baginya untuk hidup hingga air itu bergoncang . Ia berpaling dengan badan yang lemah, seraya berkata “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku .”

KSZ1 207.1 Yesus tidak meminta si penderita ini menggunakan iman kepada-Nya Ia hanya berkata, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.”

KSZ1 207.2 Tetapi iman orang ini berpegang teguh pada perkataan-Nya itu. Setiap urat saraf dan otot bergetar dengan hayat yang baru dan tenaga hidup pada anggota-anggota tubuhnya yang lumpuh itu. Dengan tidak ragu-ragu ia mengambil keputusan untuk menurut perintah Kristus dan segenap ototnya menyambut kemauannya. Setelah melompat, ia merasa bahwa dirinya telah menjadi seorang yang sehat .

ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL

8 November 2026 | Hari 1
Hari 1: Pasal 21 - BETESDA DAN SANHEDRIN

Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 21 - BETESDA DAN SANHEDRIN
Halaman 205-207 | Pasal 21, Paragraf 1-7 | KSZ1 205.1-KSZ1 207.2

Ayat Inti:
Yohanes 5:8
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran:
Minggu 19 membaca Bab 21: Betesda dan Sanhedrin. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.

Baca:
https://www.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-19-hari-1-2026-11-08

Teks Lengkap:

DI Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang kusta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air itu.” [KSZ1 205.1]

Pada saat-saat tertentu air kolam ini bergoncang, dan menurut kepercayaan umum air itu bergoncang oleh suatu kuasa gaib, dan siapa yang pertama-tama meloncat ke dalamnya selagi air kolam itu bergoncang, ia akan disembuhkan dari penyakit apa saja yang dideritanya. Beratus-ratus penderita mengunjungi tempat itu; tetapi karena begitu banyak orang yang berebutan bila air itu bergoncang maka orang-orang yang agak lemah sering terpijak oleh orang-orang yang lebih kuat. Banyak yang tidak dapat menghampiri kolam itu. Banyak pula yang telah berhasil tiba pada kolam itu tetapi telah meninggal dunia di tepinya. Banyak tempat berteduh telah dibangun di sekeliling tempat itu, agar orang-orang sakit itu dapat terlindung dari panas pada siang dan dingin pada malam. Ada pula yang menunggu sepanjang malam pada serambi-serambi itu, merayap ke tepi kolam itu dari hari ke hari tetapi sia-sia belaka usaha mereka itu. [KSZ1 205.2]

Yesus kini berada di Yerusalem. Setelah Ia menyendiri dan minta doa sendirian Ia datang ke kolam itu. Ia melihat para penderita yang malang sedang memandang dengan penuh perhatian pada kolam itu karena pada sangka mereka hanya inilah satu-satunya kesempatan bagi mereka untuk sembuh. Ia rindu menyatakan kuasa-Nya dan menyem-buhkan setiap penderita ini. Tetapi hari itu adalah hari Sabat. Orang ba-nyak sedang menuju ke Bait Suci untuk berbakti dan Ia mengetahui bahwa penyembuhan semacam itu akan menimbulkan prasangka orang Yahudi sehingga dapat mengakhiri pekerjaan-Nya dengan tiba-tiba. [KSZ1 205.3]

Tetapi Juruselamat melihat seorang yang sangat menderita, Ia adalah seorang yang telah menjadi lumpuh tiga puluh delapan tahun lamanya. Penyakitnya sebenarnya sebagian besar disebabkan oleh dosanya sendiri, dan dianggap sebagai hukuman dari Allah. Karena sendirian dan tidak ada sanak saudara, serta merasa bahwa pintu kasihan Allah telah tertutup baginya, si penderita itu hidup merana bertahun-tahun lamanya. Pada saat ia mengharap bahwa air akan bergoncang, mereka yang merasa kasihan atas dirinya yang tidak berdaya itu menolong mengangkat dia ke serambi kolam itu. Tetapi pada saat air itu bergoncang tidak seorang pun yang menolong memasukkan dia ke dalam kolam itu. Ia telah melihat air itu bergoncang, tetapi malang benar, ia tidak dapat beringsut melewati tepi kolam itu. Orang-orang lain yang lebih kuat terjun mendahului dia. Ia tidak dapat berlomba dengan orang banyak yang bersifat mementingkan diri yang berebutan terjun ke kolam. Usahanya yang tekun untuk mencapai maksudnya, serta kecemasan dan kekecewaannya yang terusmenerus, dengan cepat menghabiskan tenaganya yang masih tersisa. [KSZ1 206.1]

Orang sakit itu sedang berbaring di atas tikarnya, dan sering mengang-kat kepalanya melihat ke kolam itu; pada saat itulah dengan wajah yang penuh belas kasihan seorang membungkuk di hadapannya, dan perkataan, “Maukah engkau sembuh?” menarik perhatiannya. Harapan timbul dalam hatinya. Ia merasa bahwa rupanya ia akan mendapat pertolongan. Tetapi seri wajahnya yang penuh harapan itu tiba-tiba menjadi suram . Ia teringat betapa seringnya ia telah berusaha mencapai kolam itu dan kini hanya tinggal sedikit harapan baginya untuk hidup hingga air itu bergoncang . Ia berpaling dengan badan yang lemah, seraya berkata “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku .” [KSZ1 206.2]

Yesus tidak meminta si penderita ini menggunakan iman kepada-Nya Ia hanya berkata, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” [KSZ1 207.1]

Tetapi iman orang ini berpegang teguh pada perkataan-Nya itu. Setiap urat saraf dan otot bergetar dengan hayat yang baru dan tenaga hidup pada anggota-anggota tubuhnya yang lumpuh itu. Dengan tidak ragu-ragu ia mengambil keputusan untuk menurut perintah Kristus dan segenap ototnya menyambut kemauannya. Setelah melompat, ia merasa bahwa dirinya telah menjadi seorang yang sehat . [KSZ1 207.2]