11 Oktober 2026 · Hari 1
Hari 1: Pasal 17 - NIKODEMUS
Halaman 168-169 | Pasal 17, Paragraf 1-5 | KSZ1 168.1-KSZ1 169.3
Ayat Inti
Yohanes 3:16
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran
Minggu 15 membaca Bab 17: Nikodemus. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Doa
Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.
Teks Lengkap
KSZ1 168.1 NIKODEMUS menjabat suatu kedudukan tinggi yang penuh tanggung jawab di kalangan bangsa Yahudi. Ia berpendidikan tinggi, serta memiliki bakat-bakat yang luar biasa, dan ia seorang anggota yang terhormat pada majelis nasional. Bersama orang-orang lain, hatinya telah digerakkan oleh pengajaran Yesus. Walaupun kaya, terpelajar, dan terhormat, selama ini ia selalu tertarik secara ajaib oleh Orang Nazaret yang rendah hati itu. Segala pelajaran yang keluar dari bibir Juruselamat itu telah meninggalkan kesan yang tidak mudah dilupakannya, dan ia ingin belajar lebih jauh tentang segala kebenaran yang indah ini.
KSZ1 168.2 Penggunaan kekuasaan oleh Kristus dalam membersihkan Bait Suci itu telah membangkitkan kebencian di pihak imam-imam dan penghulupenghulu. Mereka takut akan kuasa orang asing ini. Keberanian serupa itu pada seorang penduduk Galilea yang tidak terkenal itu tidak boleh dibiarkan begitu saja. Mereka bertekad hendak mengakhiri pekerjaanNya itu. Akan tetapi tidak semuanya menyetujui maksud ini. Ada juga orang yang takut melawan Pribadi yang nyata benar digerakkan oleh Roh Allah. Mereka terkenang akan bagaimana nabi-nabi dahulu telah dibunuh karena mengecam dosa-dosa para pemimpin bangsa Israel. Mereka mengetahui bahwa perhambaan bangsa Yahudi kepada bangsa kafir adalah karena kedegilan mereka dalam menolak teguran yang berasal dari Allah. Mereka takut kalau-kalau dalam mengadakan komplotan untuk membunuh Yesus, imam-imam dan penghulu-penghulu sedang mengi-kuti jejak nenek moyang mereka, dan akan mendatangkan malapetaka kepada bangsa itu. Nikodemus ikut merasakan segala perasaan ini. Dalam majelis Sanhedrin, ketika tindakan yang akan diambil terhadap Yesus dipertimbangkan, Nikodemus menasihatkan agar berhati-hati bertindak dengan menahan diri. Ia menandaskan bahwa Yesus sungguh-sungguh diberi kuasa dari Allah, akan berbahayalah menolak segala amaranNya. Imam-imam tidak berani mengabaikan nasihat ini, dan pada waktu itu mereka tidak mengambil tindakan tegas terhadap Juruselamat.
KSZ1 169.1 Sejak mendengar Yesus, Nikodemus telah menyelidiki dengan penuh kerinduan segala nubuatan yang berhubungan dengan Mesias; dan sema-kin ia menyelidik, semakin kuat pulalah keyakinannya bahwa inilah Dia yang akan datang itu. Dengan banyak lagi orang lain di kalangan orang Israel ia telah merasa susah sekali oleh penajisan Bait Suci itu. Ia turut menyaksikan peristiwa ketika Yesus mengusir orang-orang yang berjual beli itu keluar; ia melihat pernyataan kuasa Ilahi yang ajaib itu; ia melihat Juruselamat menerima orang miskin serta menyembuhkan orang sakit; ia melihat pandangan kegirangan serta mendengar puji-pujian mereka; dan ia tidak dapat meragukan lagi bahwa Yesus dari Nazaret itu adalah Yang Diutus Allah.
KSZ1 169.2 Ia ingin sekali mengadakan wawancara dengan Yesus, tetapi takut menemui Dia secara terang-terangan. Akan terlalu hina bagi seorang penghulu bangsa Yahudi untuk mengakui dirinya menaruh simpati ter-hadap seorang guru yang hingga kini belum begitu terkenal. Dan seki-ranya kunjungannya itu diketahui oleh Sanhedrin, akan mendapatkan ejekan dan celaan. Ia memutuskan untuk mengadakan suatu wawancara rahasia, dengan alasan bahwa jikalau ia pergi secara terang-terangan, maka orang lain mungkin akan mengikuti teladan yang diberikannya itu. Setelah bertanya-tanya dan mengetahui dengan jelas di mana tempat istirahat Juruselamat, di Bukit Zaitun, ia menunggu hingga seluruh peng-huni kota sudah tidur nyenyak, lalu kemudian pergilah ia mencari Dia.
KSZ1 169.3 Di hadirat Kristus, Nikodemus merasa agak malu dan segan dan ia berusaha menyembunyikan perasaan itu dengan sikap tenang dan agung. “Rabi,” katanya, “kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tandatanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya. Oleh berbicara tentang bakat-bakat luar biasa yang ada pada Kristus sebagai seorang guru, dan juga tentang kuasa-Nya yang ajaib untuk mengadakan mukjizat, ia mengharap dapat membuka jalan bagi wawancaranya dengan Yesus. Ucapannya itu dimaksudkan untuk mengungkapkan serta mengundang keyakinan; tetapi sebenarnya hal itu menyatakan adanya kurang percaya. Ia tidak mengakui Yesus sebagai Mesias, melainkan ha-nya seorang guru yang datang dari Allah.
ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL
11 Oktober 2026 | Hari 1
Hari 1: Pasal 17 - NIKODEMUS
Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 17 - NIKODEMUS
Halaman 168-169 | Pasal 17, Paragraf 1-5 | KSZ1 168.1-KSZ1 169.3
Ayat Inti:
Yohanes 3:16
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran:
Minggu 15 membaca Bab 17: Nikodemus. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Baca:
https://www.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-15-hari-1-2026-10-11
Teks Lengkap:
NIKODEMUS menjabat suatu kedudukan tinggi yang penuh tanggung jawab di kalangan bangsa Yahudi. Ia berpendidikan tinggi, serta memiliki bakat-bakat yang luar biasa, dan ia seorang anggota yang terhormat pada majelis nasional. Bersama orang-orang lain, hatinya telah digerakkan oleh pengajaran Yesus. Walaupun kaya, terpelajar, dan terhormat, selama ini ia selalu tertarik secara ajaib oleh Orang Nazaret yang rendah hati itu. Segala pelajaran yang keluar dari bibir Juruselamat itu telah meninggalkan kesan yang tidak mudah dilupakannya, dan ia ingin belajar lebih jauh tentang segala kebenaran yang indah ini. [KSZ1 168.1]
Penggunaan kekuasaan oleh Kristus dalam membersihkan Bait Suci itu telah membangkitkan kebencian di pihak imam-imam dan penghulupenghulu. Mereka takut akan kuasa orang asing ini. Keberanian serupa itu pada seorang penduduk Galilea yang tidak terkenal itu tidak boleh dibiarkan begitu saja. Mereka bertekad hendak mengakhiri pekerjaanNya itu. Akan tetapi tidak semuanya menyetujui maksud ini. Ada juga orang yang takut melawan Pribadi yang nyata benar digerakkan oleh Roh Allah. Mereka terkenang akan bagaimana nabi-nabi dahulu telah dibunuh karena mengecam dosa-dosa para pemimpin bangsa Israel. Mereka mengetahui bahwa perhambaan bangsa Yahudi kepada bangsa kafir adalah karena kedegilan mereka dalam menolak teguran yang berasal dari Allah. Mereka takut kalau-kalau dalam mengadakan komplotan untuk membunuh Yesus, imam-imam dan penghulu-penghulu sedang mengi-kuti jejak nenek moyang mereka, dan akan mendatangkan malapetaka kepada bangsa itu. Nikodemus ikut merasakan segala perasaan ini. Dalam majelis Sanhedrin, ketika tindakan yang akan diambil terhadap Yesus dipertimbangkan, Nikodemus menasihatkan agar berhati-hati bertindak dengan menahan diri. Ia menandaskan bahwa Yesus sungguh-sungguh diberi kuasa dari Allah, akan berbahayalah menolak segala amaranNya. Imam-imam tidak berani mengabaikan nasihat ini, dan pada waktu itu mereka tidak mengambil tindakan tegas terhadap Juruselamat. [KSZ1 168.2]
Sejak mendengar Yesus, Nikodemus telah menyelidiki dengan penuh kerinduan segala nubuatan yang berhubungan dengan Mesias; dan sema-kin ia menyelidik, semakin kuat pulalah keyakinannya bahwa inilah Dia yang akan datang itu. Dengan banyak lagi orang lain di kalangan orang Israel ia telah merasa susah sekali oleh penajisan Bait Suci itu. Ia turut menyaksikan peristiwa ketika Yesus mengusir orang-orang yang berjual beli itu keluar; ia melihat pernyataan kuasa Ilahi yang ajaib itu; ia melihat Juruselamat menerima orang miskin serta menyembuhkan orang sakit; ia melihat pandangan kegirangan serta mendengar puji-pujian mereka; dan ia tidak dapat meragukan lagi bahwa Yesus dari Nazaret itu adalah Yang Diutus Allah. [KSZ1 169.1]
Ia ingin sekali mengadakan wawancara dengan Yesus, tetapi takut menemui Dia secara terang-terangan. Akan terlalu hina bagi seorang penghulu bangsa Yahudi untuk mengakui dirinya menaruh simpati ter-hadap seorang guru yang hingga kini belum begitu terkenal. Dan seki-ranya kunjungannya itu diketahui oleh Sanhedrin, akan mendapatkan ejekan dan celaan. Ia memutuskan untuk mengadakan suatu wawancara rahasia, dengan alasan bahwa jikalau ia pergi secara terang-terangan, maka orang lain mungkin akan mengikuti teladan yang diberikannya itu. Setelah bertanya-tanya dan mengetahui dengan jelas di mana tempat istirahat Juruselamat, di Bukit Zaitun, ia menunggu hingga seluruh peng-huni kota sudah tidur nyenyak, lalu kemudian pergilah ia mencari Dia. [KSZ1 169.2]
Di hadirat Kristus, Nikodemus merasa agak malu dan segan dan ia berusaha menyembunyikan perasaan itu dengan sikap tenang dan agung. “Rabi,” katanya, “kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tandatanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya. Oleh berbicara tentang bakat-bakat luar biasa yang ada pada Kristus sebagai seorang guru, dan juga tentang kuasa-Nya yang ajaib untuk mengadakan mukjizat, ia mengharap dapat membuka jalan bagi wawancaranya dengan Yesus. Ucapannya itu dimaksudkan untuk mengungkapkan serta mengundang keyakinan; tetapi sebenarnya hal itu menyatakan adanya kurang percaya. Ia tidak mengakui Yesus sebagai Mesias, melainkan ha-nya seorang guru yang datang dari Allah. [KSZ1 169.3]