9 September 2026 · Hari 4
Hari 4: Pasal 12 - PENCOBAAN
Halaman 112-113 | Pasal 12, Paragraf 16-19 | KSZ1 112.1-KSZ1 113.2
Ayat Inti
Matius 4:4
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran
Minggu 10 membaca Bab 12: Pencobaan. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Doa
Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.
Teks Lengkap
KSZ1 112.1 ’’Walaupun ia nampak seperti seorang malaikat terang,” ucapan yang pertama ini mengkhianati pribadinya. “Jikalau Engkau Anak Allah.” Di sinilah sindiran yang mengandung rasa tidak percaya. Sekiranya Yesus melakukan apa yang dianjurkan Setan, sudah pasti hal itu berarti penerimaan akan kebimbangan itu. Penggoda itu merencanakan untuk mengalahkan Kristus dengan menggunakan cara yang berhasil seperti ketika ia menggoda bangsa manusia pada mula pertama. Betapa liciknya Setan telah mendekati Hawa di Taman Eden! “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Kejadian 3:1. Sampai di situ ucapan penggoda itu benar adanya; tetapi dalam caranya berbicara itu kepada mereka, terselip sesuatu penghinaan yang disamarkan terhadap sabda Allah. Dalamnya terkandung sesuatu peniadaan yang licik, satu kebimbangan tentang kebenaran Ilahi. Setan berusaha hendak menanamkan ke dalam pikiran Hawa pendapat bahwa Allah tidak akan bertindak seperti yang telah dikatakan-Nya; bahwa penahanan buah seindah itu adalah bertentangan dengan kecintaan dan kasih sayang-Nya bagi manusia. Jadi sekarang pun penggoda itu berusaha mengilhami Kristus dengan perasaannya sendiri. “Jikalau Engkau Anak Allah,” ucapan ini membakar dengan kepahitan di dalam pikirannya. Dalam nada suaranya ada sesuatu pernyataan tidak percaya yang amat sangat. Sampai hatikah Allah memperlakukan Putra-Nya sendiri sedemikian? Sampai hatikah Ia meninggalkan Dia di padang belantara dengan binatang-binatang buas, tanpa makanan, tanpa kawan, tanpa kesenangan? Ia menyindir bahwa Allah tidak pernah bermaksud supaya Anak-Nya mengalami keadaan semacam ini. “Jikalau Engkau Anak Allah,” tunjukkanlah kuasa-Mu oleh menolong diri-Mu sendiri dari kelaparan yang amat sangat ini. Perintahkanlah supaya batu ini menjadi roti.
KSZ1 112.2 Ucapan yang dari surga, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan” Matius 3:17, masih saja berdengung di telinga Setan. Akan tetapi ia sudah bertekad hendak membuat Kristus tidak percaya akan kesaksian ini. Firman Allah menjadi jaminan bagi Kristus tentang tugas Ilahi-Nya itu. Ia telah datang untuk hidup sebagai seorang manusia di antara manusia, dan firman itulah yang menyatakan hubungan-Nya dengan surga. Maksud Setan ialah untuk membuat Dia bimbang akan firman itu. Sekiranya keyakinan Kristus pada Allah dapat digoncangkan, tahulah Setan bahwa kemenangan dalam seluruh peperangan itu akan jatuh ke tangannya. Ia dapat mengalahkan Yesus. Ia mengharap supaya di bawah tekanan rasa putus asa dan lapar yang tidak terperikan, Kristus akan kehilangan percaya kepada Bapa-Nya, lalu mengadakan suatu mukjizat untuk kepentingan-Nya sendiri. Sekiranya Ia melakukan hal ini, maka rencana keselamatan pun sudah akan patah.
KSZ1 113.1 Ketika Setan dan Anak Allah pertama kali bertemu dalam peperangan, Kristus menjadi panglima segenap balatentara surga; dan Setan, pemimpin pemberontakan di surga, diusir keluar. Kini keadaan mereka nampaknya terbalik, dan Setan berusaha keras untuk menggunakan kelebihan itu dengan sebaik-baiknya. Salah seorang malaikat yang paling berkuasa di surga, katanya, telah diusir dari surga. Rupa Yesus menunjukkan bahwa Ialah malaikat yang telah jatuh itu, dibuangkan oleh Allah dan ditinggalkan oleh manusia. Sebagai Pribadi Ilahi tentu dapat mempertahankan pengakuan-Nya oleh mengadakan suatu mukjizat; “jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Tindakan kuasa menciptakan seperti itu, desak penggoda itu, akan merupakan bukti Keilahian yang tak tergugat lagi. Tindakan itu tentu akan mengakhiri per-tentangan itu.
KSZ1 113.2 Bukanlah tanpa pergumulan Yesus mendengar dengan tenang kepada penipu besar itu. Tetapi Anak Allah itu tidak perlu membuktikan Keilahian-Nya kepada Setan, atau menjelaskan mengapa Ia merendahkan diri-Nya. Oleh memenuhi tuntutan pemberontak itu, tak ada satu pun kebaikan manusia atau kemuliaan Allah yang akan diperoleh. Sekiranya Kristus menurut anjuran musuh itu, Setan tentu masih akan mengatakan, Tunjukkanlah kepadaku sesuatu tanda supaya saya dapat percaya bahwa Engkaulah Anak Allah. Bukti sudah tentu tidak akan berguna untuk menghancurkan kuasa pemberontakan di dalam hatinya. Dan Kristus tidak perlu menggunakan kuasa Ilahi untuk kepentingan-Nya sendiri. Ia telah datang untuk menanggung ujian seperti yang harus kita tanggung, meninggalkan bagi kita suatu teladan iman dan penyerahan diri. Baik di sini maupun pada waktu-waktu selanjutnya dalam hidup-Nya di dunia ini, tidak pernah Ia mengadakan sesuatu mukjizat demi kepentingan-Nya sendiri. Segala perbuatan-Nya yang ajaib adalah untuk kebaikan orang lain. Walaupun Yesus mengenal Setan sejak mulanya, Ia tidak terhasut untuk memasuki suatu pertentangan dengan dia. Karena dikuatkan dengan ingatan akan suara yang dari surga itu, Ia bersandar pada kasih Bapa-Nya. Ia tidak mau berperang mulut dengan pencobaan.
ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL
9 September 2026 | Hari 4
Hari 4: Pasal 12 - PENCOBAAN
Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 12 - PENCOBAAN
Halaman 112-113 | Pasal 12, Paragraf 16-19 | KSZ1 112.1-KSZ1 113.2
Ayat Inti:
Matius 4:4
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran:
Minggu 10 membaca Bab 12: Pencobaan. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Baca:
https://www.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-10-hari-4-2026-09-09
Teks Lengkap:
’’Walaupun ia nampak seperti seorang malaikat terang,” ucapan yang pertama ini mengkhianati pribadinya. “Jikalau Engkau Anak Allah.” Di sinilah sindiran yang mengandung rasa tidak percaya. Sekiranya Yesus melakukan apa yang dianjurkan Setan, sudah pasti hal itu berarti penerimaan akan kebimbangan itu. Penggoda itu merencanakan untuk mengalahkan Kristus dengan menggunakan cara yang berhasil seperti ketika ia menggoda bangsa manusia pada mula pertama. Betapa liciknya Setan telah mendekati Hawa di Taman Eden! “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Kejadian 3:1. Sampai di situ ucapan penggoda itu benar adanya; tetapi dalam caranya berbicara itu kepada mereka, terselip sesuatu penghinaan yang disamarkan terhadap sabda Allah. Dalamnya terkandung sesuatu peniadaan yang licik, satu kebimbangan tentang kebenaran Ilahi. Setan berusaha hendak menanamkan ke dalam pikiran Hawa pendapat bahwa Allah tidak akan bertindak seperti yang telah dikatakan-Nya; bahwa penahanan buah seindah itu adalah bertentangan dengan kecintaan dan kasih sayang-Nya bagi manusia. Jadi sekarang pun penggoda itu berusaha mengilhami Kristus dengan perasaannya sendiri. “Jikalau Engkau Anak Allah,” ucapan ini membakar dengan kepahitan di dalam pikirannya. Dalam nada suaranya ada sesuatu pernyataan tidak percaya yang amat sangat. Sampai hatikah Allah memperlakukan Putra-Nya sendiri sedemikian? Sampai hatikah Ia meninggalkan Dia di padang belantara dengan binatang-binatang buas, tanpa makanan, tanpa kawan, tanpa kesenangan? Ia menyindir bahwa Allah tidak pernah bermaksud supaya Anak-Nya mengalami keadaan semacam ini. “Jikalau Engkau Anak Allah,” tunjukkanlah kuasa-Mu oleh menolong diri-Mu sendiri dari kelaparan yang amat sangat ini. Perintahkanlah supaya batu ini menjadi roti. [KSZ1 112.1]
Ucapan yang dari surga, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan” Matius 3:17, masih saja berdengung di telinga Setan. Akan tetapi ia sudah bertekad hendak membuat Kristus tidak percaya akan kesaksian ini. Firman Allah menjadi jaminan bagi Kristus tentang tugas Ilahi-Nya itu. Ia telah datang untuk hidup sebagai seorang manusia di antara manusia, dan firman itulah yang menyatakan hubungan-Nya dengan surga. Maksud Setan ialah untuk membuat Dia bimbang akan firman itu. Sekiranya keyakinan Kristus pada Allah dapat digoncangkan, tahulah Setan bahwa kemenangan dalam seluruh peperangan itu akan jatuh ke tangannya. Ia dapat mengalahkan Yesus. Ia mengharap supaya di bawah tekanan rasa putus asa dan lapar yang tidak terperikan, Kristus akan kehilangan percaya kepada Bapa-Nya, lalu mengadakan suatu mukjizat untuk kepentingan-Nya sendiri. Sekiranya Ia melakukan hal ini, maka rencana keselamatan pun sudah akan patah. [KSZ1 112.2]
Ketika Setan dan Anak Allah pertama kali bertemu dalam peperangan, Kristus menjadi panglima segenap balatentara surga; dan Setan, pemimpin pemberontakan di surga, diusir keluar. Kini keadaan mereka nampaknya terbalik, dan Setan berusaha keras untuk menggunakan kelebihan itu dengan sebaik-baiknya. Salah seorang malaikat yang paling berkuasa di surga, katanya, telah diusir dari surga. Rupa Yesus menunjukkan bahwa Ialah malaikat yang telah jatuh itu, dibuangkan oleh Allah dan ditinggalkan oleh manusia. Sebagai Pribadi Ilahi tentu dapat mempertahankan pengakuan-Nya oleh mengadakan suatu mukjizat; “jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Tindakan kuasa menciptakan seperti itu, desak penggoda itu, akan merupakan bukti Keilahian yang tak tergugat lagi. Tindakan itu tentu akan mengakhiri per-tentangan itu. [KSZ1 113.1]
Bukanlah tanpa pergumulan Yesus mendengar dengan tenang kepada penipu besar itu. Tetapi Anak Allah itu tidak perlu membuktikan Keilahian-Nya kepada Setan, atau menjelaskan mengapa Ia merendahkan diri-Nya. Oleh memenuhi tuntutan pemberontak itu, tak ada satu pun kebaikan manusia atau kemuliaan Allah yang akan diperoleh. Sekiranya Kristus menurut anjuran musuh itu, Setan tentu masih akan mengatakan, Tunjukkanlah kepadaku sesuatu tanda supaya saya dapat percaya bahwa Engkaulah Anak Allah. Bukti sudah tentu tidak akan berguna untuk menghancurkan kuasa pemberontakan di dalam hatinya. Dan Kristus tidak perlu menggunakan kuasa Ilahi untuk kepentingan-Nya sendiri. Ia telah datang untuk menanggung ujian seperti yang harus kita tanggung, meninggalkan bagi kita suatu teladan iman dan penyerahan diri. Baik di sini maupun pada waktu-waktu selanjutnya dalam hidup-Nya di dunia ini, tidak pernah Ia mengadakan sesuatu mukjizat demi kepentingan-Nya sendiri. Segala perbuatan-Nya yang ajaib adalah untuk kebaikan orang lain. Walaupun Yesus mengenal Setan sejak mulanya, Ia tidak terhasut untuk memasuki suatu pertentangan dengan dia. Karena dikuatkan dengan ingatan akan suara yang dari surga itu, Ia bersandar pada kasih Bapa-Nya. Ia tidak mau berperang mulut dengan pencobaan. [KSZ1 113.2]