11 Juli 2026 · Hari 7
Hari 7: Pasal 2 - UMAT PILIHAN
Halaman 25-27 | Pasal 2, Paragraf 9-13 | KSZ1 25.3-KSZ1 27.1
Ayat Inti
Matius 1:23
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran
Minggu pertama mengarahkan jemaat melihat Yesus sebagai Imanuel, Allah yang bersama manusia. Bacaan ini menolong kita memulai perjalanan misi dengan kekaguman kepada kasih Kristus dan kesadaran bahwa umat pilihan dipanggil untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa.
Doa
Tuhan Yesus, dekatkan hati kami kepada-Mu dan jadikan kami saksi kasih-Mu di tempat kami berada. Amin.
Teks Lengkap
KSZ1 25.3 Setelah pulang dari Babel, besarlah perhatian yang dicurahkan pada pendidikan agama. Di seluruh negeri, banyak rumah sembahyang dibangun di mana Taurat ditafsirkan oleh imam-imam dan ahli-ahli Taurat. Dan sekolah-sekolah didirikan, yang di samping mengajarkan bermacam-macam seni dan ilmu pengetahuan, mengaku mengajarkan asasasas kebenaran. Akan tetapi semua alat ini menjadi rusak. Selama dalam tawanan, banyak dari antara bangsa itu sudah menerima pendapat-pendapat serta adat-adat kekafiran, dan semuanya ini dimasukkan ke dalam upacara keagamaan mereka. Dalam banyak hal mereka meniru kebiasaan-kebiasaan para penyembah berhala.
KSZ1 26.1 Karena menyimpang dari Allah, orang-orang Yahudi pun lupa pada ajaran upacara korban. Upacara itu telah dibentuk oleh Kristus sendiri. Dalam tiap bagian, upacara itu melambangkan diri-Nya sendiri, dan hal itu penuh kuasa hidup dan keindahan rohani. Tetapi orang-orang Yahudi telah kehilangan hidup rohani dari upacara-upacara mereka itu, dan telah bergantung pada berhala-berhala yang mati. Mereka percaya pada segala korban-dan upacara itu sendiri gantinya menyandarkan diri pada Dia, yang kepada-Nya segala korban dan upacara tersebut menunjuk. Untuk menggantikan tempat perkara yang telah hilang itu, imam-imam serta para rabi memperbanyak tuntutan-tuntutan ciptaan mereka sendiri; dan semakin bertambah keras tuntutan-tuntutan itu, semakin berkuranglah kasih Allah dinyatakan. Mereka mengukur kesucian mereka oleh upacara-upacara mereka yang tidak terkira banyaknya, sedangkan hati mereka penuh kesombongan dan kemunafikan.
KSZ1 26.2 Dengan segenap perintah mereka yang rumit dan berat itu, adalah suatu kemustahilan untuk memelihara hukum itu. Orang-orang yang ingin berbakti kepada Allah dan yang mencoba menurut ajaran para rabi, bekerja keras di bawah sebuah beban yang berat. Mereka tidak dapat beroleh perhentian dari tuduhan-tuduhan hati nurani yang risau. Demikianlah Setan bekerja untuk melemahkan semangat bangsa itu, untuk merendahkan pendapat mereka mengenai tabiat Allah, dan untuk membawa iman orang-orang Israel ke dalam kehinaan. Ia berharap hendak membuktikan ucapan yang dikeluarkannya waktu ia memberontak di surga dahulu, bahwa tuntutan-tuntutan Allah tidak adil, dan tidak dapat diturut. Bahkan Israel sekalipun, katanya, tidak memelihara hukum itu.
KSZ1 26.3 Sementara bangsa Yahudi merindukan kedatangan Mesias, mereka tidak mempunyai pengertian yang benar tentang pekerjaan-Nya. Mereka bukannya mencari penebusan dari dosa, melainkan kebebasan dari bangsa Romawi. Mereka mengharap Mesias datang selaku seorang penguasa perang, untuk menghancurkan kekuasaan penindas, dan mengangkat Israel menjadi pemerintah seluruh dunia. Demikianlah jalan disediakan bagi mereka itu untuk menolak Juruselamat.
KSZ1 27.1 Pada waktu Kristus lahir bangsa itu merasa muak di bawah pemerintahan penjajah-penjajah asing, dan menderita sakit dengan pertikaian di antara mereka sendiri. Orang Yahudi selama ini diizinkan menjalankan satu bentuk pemerintahan tersendiri; akan tetapi tidak ada suatu pun yang dapat menyamarkan kenyataan bahwa mereka sedang berada di bawah kuk bangsa Romawi, atau menyenangkan hati mereka kepada batas-batas kuasa mereka itu. Bangsa Romawi mengaku berhak mengangkat atau membebaskan imam besar, dan kedudukan itu acapkali diperoleh dengan jalan kecurangan, penyogokan, dan bahkan pembunuhan. Demikianlah keimamatan itu makin lama makin bertambah rusak. Namun imamimam masih senantiasa memiliki kuasa besar, dan mereka menggunakan kuasa tersebut untuk mencari keuntungan dan laba bagi diri sendiri. Orang banyak menderita di bawah tuntutan-tuntutan mereka yang tidak kenal belas kasihan, dan juga dipaksa membayar pajak yang berat oleh bangsa Romawi. Keadaan ini menimbulkan perasaan tidak puas di segala tempat. Pemberontakan rakyat jelata sering terjadi. Kegelojohan serta kekerasan, curiga dan sikap masa bodoh terhadap kerohanian, merongrong jantung bangsa itu. Kebencian terhadap orang Romawi, kesombongan kebangsaan dan kerohanian, menyebabkan bangsa Yahudi semakin berpegang teguh pada upacara-upacara perbaktian mereka. Para imam berusaha menjaga nama baik demi kekudusan oleh perhatian yang amat teliti terhadap upacara-upacara keagamaan. Orang banyak, dalam kegelapan dan penindasan yang menimpa mereka, dan penghulu-penghulu yang haus akan kekuasaan, merindukan kedatangan Dia yang akan menaklukkan musuh-musuh mereka, serta mengembalikan kerajaan itu kepada Israel. Mereka telah mempelajari segala nubuatan, tetapi tanpa pengertian rohani. Demikianlah mereka melihat dengan berlebihan segala nubuatan yang menunjuk pada kehinaan kedatangan Kristus yang pertama kali, dan salah mengartikan nubuatan-nubuatan yang berbicara tentang kemuliaan kedatangan-Nya yang kedua kali. Kecongkakan mengaburkan pandangan mata mereka. Mereka menafsirkan nubuatan sesuai dengan keinginan-keinginan hati yang mementingkan diri itu.
ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL
11 Juli 2026 | Hari 7
Hari 7: Pasal 2 - UMAT PILIHAN
Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 2 - UMAT PILIHAN
Halaman 25-27 | Pasal 2, Paragraf 9-13 | KSZ1 25.3-KSZ1 27.1
Ayat Inti:
Matius 1:23
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran:
Minggu pertama mengarahkan jemaat melihat Yesus sebagai Imanuel, Allah yang bersama manusia. Bacaan ini menolong kita memulai perjalanan misi dengan kekaguman kepada kasih Kristus dan kesadaran bahwa umat pilihan dipanggil untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa.
Baca:
https://www.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-1-hari-7-2026-07-11
Teks Lengkap:
Setelah pulang dari Babel, besarlah perhatian yang dicurahkan pada pendidikan agama. Di seluruh negeri, banyak rumah sembahyang dibangun di mana Taurat ditafsirkan oleh imam-imam dan ahli-ahli Taurat. Dan sekolah-sekolah didirikan, yang di samping mengajarkan bermacam-macam seni dan ilmu pengetahuan, mengaku mengajarkan asasasas kebenaran. Akan tetapi semua alat ini menjadi rusak. Selama dalam tawanan, banyak dari antara bangsa itu sudah menerima pendapat-pendapat serta adat-adat kekafiran, dan semuanya ini dimasukkan ke dalam upacara keagamaan mereka. Dalam banyak hal mereka meniru kebiasaan-kebiasaan para penyembah berhala. [KSZ1 25.3]
Karena menyimpang dari Allah, orang-orang Yahudi pun lupa pada ajaran upacara korban. Upacara itu telah dibentuk oleh Kristus sendiri. Dalam tiap bagian, upacara itu melambangkan diri-Nya sendiri, dan hal itu penuh kuasa hidup dan keindahan rohani. Tetapi orang-orang Yahudi telah kehilangan hidup rohani dari upacara-upacara mereka itu, dan telah bergantung pada berhala-berhala yang mati. Mereka percaya pada segala korban-dan upacara itu sendiri gantinya menyandarkan diri pada Dia, yang kepada-Nya segala korban dan upacara tersebut menunjuk. Untuk menggantikan tempat perkara yang telah hilang itu, imam-imam serta para rabi memperbanyak tuntutan-tuntutan ciptaan mereka sendiri; dan semakin bertambah keras tuntutan-tuntutan itu, semakin berkuranglah kasih Allah dinyatakan. Mereka mengukur kesucian mereka oleh upacara-upacara mereka yang tidak terkira banyaknya, sedangkan hati mereka penuh kesombongan dan kemunafikan. [KSZ1 26.1]
Dengan segenap perintah mereka yang rumit dan berat itu, adalah suatu kemustahilan untuk memelihara hukum itu. Orang-orang yang ingin berbakti kepada Allah dan yang mencoba menurut ajaran para rabi, bekerja keras di bawah sebuah beban yang berat. Mereka tidak dapat beroleh perhentian dari tuduhan-tuduhan hati nurani yang risau. Demikianlah Setan bekerja untuk melemahkan semangat bangsa itu, untuk merendahkan pendapat mereka mengenai tabiat Allah, dan untuk membawa iman orang-orang Israel ke dalam kehinaan. Ia berharap hendak membuktikan ucapan yang dikeluarkannya waktu ia memberontak di surga dahulu, bahwa tuntutan-tuntutan Allah tidak adil, dan tidak dapat diturut. Bahkan Israel sekalipun, katanya, tidak memelihara hukum itu. [KSZ1 26.2]
Sementara bangsa Yahudi merindukan kedatangan Mesias, mereka tidak mempunyai pengertian yang benar tentang pekerjaan-Nya. Mereka bukannya mencari penebusan dari dosa, melainkan kebebasan dari bangsa Romawi. Mereka mengharap Mesias datang selaku seorang penguasa perang, untuk menghancurkan kekuasaan penindas, dan mengangkat Israel menjadi pemerintah seluruh dunia. Demikianlah jalan disediakan bagi mereka itu untuk menolak Juruselamat. [KSZ1 26.3]
Pada waktu Kristus lahir bangsa itu merasa muak di bawah pemerintahan penjajah-penjajah asing, dan menderita sakit dengan pertikaian di antara mereka sendiri. Orang Yahudi selama ini diizinkan menjalankan satu bentuk pemerintahan tersendiri; akan tetapi tidak ada suatu pun yang dapat menyamarkan kenyataan bahwa mereka sedang berada di bawah kuk bangsa Romawi, atau menyenangkan hati mereka kepada batas-batas kuasa mereka itu. Bangsa Romawi mengaku berhak mengangkat atau membebaskan imam besar, dan kedudukan itu acapkali diperoleh dengan jalan kecurangan, penyogokan, dan bahkan pembunuhan. Demikianlah keimamatan itu makin lama makin bertambah rusak. Namun imamimam masih senantiasa memiliki kuasa besar, dan mereka menggunakan kuasa tersebut untuk mencari keuntungan dan laba bagi diri sendiri. Orang banyak menderita di bawah tuntutan-tuntutan mereka yang tidak kenal belas kasihan, dan juga dipaksa membayar pajak yang berat oleh bangsa Romawi. Keadaan ini menimbulkan perasaan tidak puas di segala tempat. Pemberontakan rakyat jelata sering terjadi. Kegelojohan serta kekerasan, curiga dan sikap masa bodoh terhadap kerohanian, merongrong jantung bangsa itu. Kebencian terhadap orang Romawi, kesombongan kebangsaan dan kerohanian, menyebabkan bangsa Yahudi semakin berpegang teguh pada upacara-upacara perbaktian mereka. Para imam berusaha menjaga nama baik demi kekudusan oleh perhatian yang amat teliti terhadap upacara-upacara keagamaan. Orang banyak, dalam kegelapan dan penindasan yang menimpa mereka, dan penghulu-penghulu yang haus akan kekuasaan, merindukan kedatangan Dia yang akan menaklukkan musuh-musuh mereka, serta mengembalikan kerajaan itu kepada Israel. Mereka telah mempelajari segala nubuatan, tetapi tanpa pengertian rohani. Demikianlah mereka melihat dengan berlebihan segala nubuatan yang menunjuk pada kehinaan kedatangan Kristus yang pertama kali, dan salah mengartikan nubuatan-nubuatan yang berbicara tentang kemuliaan kedatangan-Nya yang kedua kali. Kecongkakan mengaburkan pandangan mata mereka. Mereka menafsirkan nubuatan sesuai dengan keinginan-keinginan hati yang mementingkan diri itu. [KSZ1 27.1]