7 Juli 2026 · Hari 3
Hari 3: Pasal 1 - ALLAH MENYERTAI KITA
Halaman 17-18 | Pasal 1, Paragraf 12-16 | KSZ1 17.2-KSZ1 18.3
Ayat Inti
Matius 1:23
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran
Minggu pertama mengarahkan jemaat melihat Yesus sebagai Imanuel, Allah yang bersama manusia. Bacaan ini menolong kita memulai perjalanan misi dengan kekaguman kepada kasih Kristus dan kesadaran bahwa umat pilihan dipanggil untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa.
Doa
Tuhan Yesus, dekatkan hati kami kepada-Mu dan jadikan kami saksi kasih-Mu di tempat kami berada. Amin.
Teks Lengkap
KSZ1 17.2 Hampir dua ribu tahun yang lampau, terdengarlah suatu suara mengandung arti rahasia di surga dari takhta Allah, “Sungguh, Aku datang.” “Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki, tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagi-Ku... Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya AllahKu.” Ibr. 10:5-7. Dalam kata-kata ini diumumkan pelaksanaan maksud yang telah dirahasiakan sejak zaman yang kekal. Kristus sudah hampir akan mengunjungi dunia kita ini, dan menjelma menjadi manusia. Firman-Nya, “Engkau telah menyediakan tubuh bagiku.” Sekiranya Ia datang dengan kemuliaan yang ada pada-Nya bersama dengan Bapa sebelum dunia ada, maka kita tidak akan tahan melihat cahaya hadirat-Nya. Supaya kita dapat melihat-Nya dan tidak menjadi binasa, kehebatan kemuliaan-Nya diselubungi. Keilahian-Nya diselubungi oleh kemanusiaan, —kemuliaan yang tidak kelihatan dalam tubuh manusia yang kelihatan.
KSZ1 17.3 Maksud besar ini telah dibayangkan selanjutnya dalam bayangan dan lambang. Belukar yang bernyala-nyala, yang dalamnya Kristus menampakkan diri kepada Musa, menyatakan Allah. Lambang yang digunakan untuk membayangkan kepribadian Ilahi itu adalah sebuah belukar yang sederhana, yang nampaknya tiada mengandung penarikan. Belukar itu menjadi lambang Ilahi. Allah Yang Mahamurah itu menyelubungi kemuliaan-Nya dalam sebuah lambang yang paling sederhana, supaya Musa dapat melihatnya dan tetap hidup. Demikianlah dalam tiang awan pada siang hari dan dalam tiang api pada malam hari, Allah mengadakan hubungan dengan Israel, menyatakan kehendak-Nya kepada manusia, serta mengaruniakan rahmat-Nya kepada mereka. Kemuliaan Allah dikurangi, serta kebesaran-Nya diselubungi supaya mata manusia yang lemah itu dapat melihatnya. Demikianlah Kristus harus datang dalam tubuh seperti ‘’tubuh kita yang hina ini,” Ftp. 3:21, “menjadi sama dengan manusia.” Di mata dunia Ia tidak mempunyai kecantikan sehingga mereka harus menyukai Dia; namun Ialah Allah yang telah menjelma, terang surga dan bumi. Kemuliaan-Nya diselubungi, kebesaran serta kekuasaan-Nya di’ sembunyikan, supaya Ia dapat merapatkan diri kepada manusia yang berdukacita dan tergoda.
KSZ1 18.1 Allah memberikan perintah kepada Musa bagi Israel, ‘’Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengahtengah mereka,” (Kel. 25:8), dan Ia bersemayam dalam Bait Suci itu, di tengah-tengah umat-Nya. Selama pengembaraan mereka yang memenatkan di padang belantara itu, lambang hadirat-Nya menyertai mereka. Demikianlah Kristus mendirikan Bait Suci-Nya di antara tempat kediaman manusia. Didirikan-Nya kemah-Nya di samping kemah-kemah manusia, supaya Ia dapat diam di antara kita, dan membuat kita tahu benar tabiat serta hidup-Nya yang Ilahi. “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” Yoh. 1:14.
KSZ1 18.2 Karena Yesus datang untuk tinggal dengan kita di dunia ini, kita tahu bahwa Tuhan telah maklum akan segala kesukaran kita, dan turut mera-sakan segenap kesusahan kita. Setiap anak Adam baik pria maupun wanita dapat mengerti bahwa Khalik kita itu adalah sahabat orang-orang berdosa. Karena dalam setiap doktrin anugerah, setiap janji sukacita, setiap perbuatan kasih, setiap penarikan Ilahi yang ditunjukkan dalam hidup Juruselamat tatkala di bumi ini, kita melihat “Allah menyertai kita.”
KSZ1 18.3 Setan menggambarkan hukum kasih Allah sebagai hukum yang ber-dasarkan sifat mementingkan diri. Ia menyatakan bahwa sungguh mustahil bagi kita menurut segala ajarannya. Kejatuhan nenek moyang kita yang pertama, bersama segala malapetaka yang telah timbul, dituduh-kannya ke atas Khalik, menyebabkan manusia memandang Allah sebagai sumber dosa, penderitaan, dan maut. Yesus harus menyingkap tabir penipuan ini. Selaku seorang dari antara kita Ia harus memberikan sebuah contoh penurutan. Untuk maksud ini Ia mengenakan sifat-sifat kita, dan merasai segala pengalaman kita. “Dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya.” Ibr. 2:17. Kalau kita harus menanggung sesuatu yang tidak ditanggung oleh Yesus, maka dalam hal ini Setan akan mengatakan bahwa kuasa Allah tidak cukup bagi kita. Karena itu Yesus telah “dicobai dalam segala perkara, sama seperti kita juga.” Ibr. 4:15. Ditanggung-Nya segala ujian yang juga kita derita. Tidak pernah Ia menggunakan sesuatu kuasa apa pun untuk kepentingan diri-Nya sendiri, yang tak dikaruniakan kepada kita dengan leluasa. Selaku seorang manusia Ia menghadapi penggodaan, dan mengalahkannya dengan kekuatan yang dikaruniakan Allah kepada-Nya. Sabda-Nya, “Aku melakukan kehendak-Mu,ya Aliahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku.” Mzm. 40:9. Sementara Ia berjalan keliling berbuat baik, dan menyembuhkan semua orang yang dianiaya Setan, Ia menjelaskan kepada umat manusia keadaan hukum Allah dan sifat pekerjaan-Nya. Hidup-Nya menyaksikan bahwa mungkinlah bagi kita juga untuk menurut hukum Allah.
ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL
7 Juli 2026 | Hari 3
Hari 3: Pasal 1 - ALLAH MENYERTAI KITA
Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 1 - ALLAH MENYERTAI KITA
Halaman 17-18 | Pasal 1, Paragraf 12-16 | KSZ1 17.2-KSZ1 18.3
Ayat Inti:
Matius 1:23
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran:
Minggu pertama mengarahkan jemaat melihat Yesus sebagai Imanuel, Allah yang bersama manusia. Bacaan ini menolong kita memulai perjalanan misi dengan kekaguman kepada kasih Kristus dan kesadaran bahwa umat pilihan dipanggil untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa.
Baca:
https://www.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-1-hari-3-2026-07-07
Teks Lengkap:
Hampir dua ribu tahun yang lampau, terdengarlah suatu suara mengandung arti rahasia di surga dari takhta Allah, “Sungguh, Aku datang.” “Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki, tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagi-Ku... Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya AllahKu.” Ibr. 10:5-7. Dalam kata-kata ini diumumkan pelaksanaan maksud yang telah dirahasiakan sejak zaman yang kekal. Kristus sudah hampir akan mengunjungi dunia kita ini, dan menjelma menjadi manusia. Firman-Nya, “Engkau telah menyediakan tubuh bagiku.” Sekiranya Ia datang dengan kemuliaan yang ada pada-Nya bersama dengan Bapa sebelum dunia ada, maka kita tidak akan tahan melihat cahaya hadirat-Nya. Supaya kita dapat melihat-Nya dan tidak menjadi binasa, kehebatan kemuliaan-Nya diselubungi. Keilahian-Nya diselubungi oleh kemanusiaan, —kemuliaan yang tidak kelihatan dalam tubuh manusia yang kelihatan. [KSZ1 17.2]
Maksud besar ini telah dibayangkan selanjutnya dalam bayangan dan lambang. Belukar yang bernyala-nyala, yang dalamnya Kristus menampakkan diri kepada Musa, menyatakan Allah. Lambang yang digunakan untuk membayangkan kepribadian Ilahi itu adalah sebuah belukar yang sederhana, yang nampaknya tiada mengandung penarikan. Belukar itu menjadi lambang Ilahi. Allah Yang Mahamurah itu menyelubungi kemuliaan-Nya dalam sebuah lambang yang paling sederhana, supaya Musa dapat melihatnya dan tetap hidup. Demikianlah dalam tiang awan pada siang hari dan dalam tiang api pada malam hari, Allah mengadakan hubungan dengan Israel, menyatakan kehendak-Nya kepada manusia, serta mengaruniakan rahmat-Nya kepada mereka. Kemuliaan Allah dikurangi, serta kebesaran-Nya diselubungi supaya mata manusia yang lemah itu dapat melihatnya. Demikianlah Kristus harus datang dalam tubuh seperti ‘’tubuh kita yang hina ini,” Ftp. 3:21, “menjadi sama dengan manusia.” Di mata dunia Ia tidak mempunyai kecantikan sehingga mereka harus menyukai Dia; namun Ialah Allah yang telah menjelma, terang surga dan bumi. Kemuliaan-Nya diselubungi, kebesaran serta kekuasaan-Nya di’ sembunyikan, supaya Ia dapat merapatkan diri kepada manusia yang berdukacita dan tergoda. [KSZ1 17.3]
Allah memberikan perintah kepada Musa bagi Israel, ‘’Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengahtengah mereka,” (Kel. 25:8), dan Ia bersemayam dalam Bait Suci itu, di tengah-tengah umat-Nya. Selama pengembaraan mereka yang memenatkan di padang belantara itu, lambang hadirat-Nya menyertai mereka. Demikianlah Kristus mendirikan Bait Suci-Nya di antara tempat kediaman manusia. Didirikan-Nya kemah-Nya di samping kemah-kemah manusia, supaya Ia dapat diam di antara kita, dan membuat kita tahu benar tabiat serta hidup-Nya yang Ilahi. “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” Yoh. 1:14. [KSZ1 18.1]
Karena Yesus datang untuk tinggal dengan kita di dunia ini, kita tahu bahwa Tuhan telah maklum akan segala kesukaran kita, dan turut mera-sakan segenap kesusahan kita. Setiap anak Adam baik pria maupun wanita dapat mengerti bahwa Khalik kita itu adalah sahabat orang-orang berdosa. Karena dalam setiap doktrin anugerah, setiap janji sukacita, setiap perbuatan kasih, setiap penarikan Ilahi yang ditunjukkan dalam hidup Juruselamat tatkala di bumi ini, kita melihat “Allah menyertai kita.” [KSZ1 18.2]
Setan menggambarkan hukum kasih Allah sebagai hukum yang ber-dasarkan sifat mementingkan diri. Ia menyatakan bahwa sungguh mustahil bagi kita menurut segala ajarannya. Kejatuhan nenek moyang kita yang pertama, bersama segala malapetaka yang telah timbul, dituduh-kannya ke atas Khalik, menyebabkan manusia memandang Allah sebagai sumber dosa, penderitaan, dan maut. Yesus harus menyingkap tabir penipuan ini. Selaku seorang dari antara kita Ia harus memberikan sebuah contoh penurutan. Untuk maksud ini Ia mengenakan sifat-sifat kita, dan merasai segala pengalaman kita. “Dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya.” Ibr. 2:17. Kalau kita harus menanggung sesuatu yang tidak ditanggung oleh Yesus, maka dalam hal ini Setan akan mengatakan bahwa kuasa Allah tidak cukup bagi kita. Karena itu Yesus telah “dicobai dalam segala perkara, sama seperti kita juga.” Ibr. 4:15. Ditanggung-Nya segala ujian yang juga kita derita. Tidak pernah Ia menggunakan sesuatu kuasa apa pun untuk kepentingan diri-Nya sendiri, yang tak dikaruniakan kepada kita dengan leluasa. Selaku seorang manusia Ia menghadapi penggodaan, dan mengalahkannya dengan kekuatan yang dikaruniakan Allah kepada-Nya. Sabda-Nya, “Aku melakukan kehendak-Mu,ya Aliahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku.” Mzm. 40:9. Sementara Ia berjalan keliling berbuat baik, dan menyembuhkan semua orang yang dianiaya Setan, Ia menjelaskan kepada umat manusia keadaan hukum Allah dan sifat pekerjaan-Nya. Hidup-Nya menyaksikan bahwa mungkinlah bagi kita juga untuk menurut hukum Allah. [KSZ1 18.3]